Diposkan pada karakter, kiasan

Marah

Smile

Orang yang sedang marah itu bagai kayu yang terbakar, semakin ia marah maka semakin membara ia, seketika orang takut, tak berani mendekat, namun tak selamanya kayu itu dapat membara, ada kalanya ia padam.

Tahu apa yang terjadi setelah itu?

Kayu yang tadinya membara, kini menjadi abu. Rapuh. Tak ada daya. Tak seorang pun yang takut pada abu, semua orang berani mendekatinya, menginjaknya, menepisnya. Yang tersisa hanyalah bekas hitam tempat ia terbakar. Orang yang lalu tak peduli mengapa ia terbakar, yang mereka tahu, bekas hitam itu begitu mengganggu.

Ketika semua telah mereda, kayu merasa hampa, ia sadar bahwa segalanya tak lagi sama.

Memang, amarahnya telah menghabisi dirinya sendiri.

Seberapa pantaskah amarah yang kita lontarkan?

Sebaik-baiknya kesabaran adalah ketika kamu lebih memilih diam, padahal dalam hatimu beribu cacian anak panah siap untuk dihujamkan

Takaran emosi orang mungkin berbeda, kesulitan untuk menahan emosi mungkin juga berbeda.

Semua hanya masalah waktu, apapun yang kita perbuat, waktu akan membuktikan kebenaran sikap kita.

Menahan amarah memang tidak mudah. Tapi ingatlah kebaikan dan balasan yang akan diterima bagi orang yang bersabar selalu lebih indah dan menyenangkan.

@addini

Penulis:

Guru di MTs N negeri 1 Rokan Hilir, lulusan UR2015, Minang-Melayu-Indonesia Menyukai hal-hal inspiratif :)

Satu tanggapan untuk “Marah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s