Diposkan pada kiasan, nasehat, writting/blogging

Mengabaikan Bayangan

Pagi yang cerah menjadi berubah. Kamu yang mengakhiri pagi dengan bahagia kini tak lagi sama. Kamu menjadi bukan kamu yang kemarin. Hari demi hari yang kamu jalani menjadi begitu suram sejak sebuah bayangan mengeruhkan segala apa yang ada dalam fikiranmu. Hingga suatu saat kamu berpikir ingin lari darinya, menganggap bahwa pelarianmu mampu merubah segalanya.

Tidak asing lagi bahwa ditempatmu berdiri juga ada bayangan yang berjalan bersamamu, ia hilang ketika segalanya begitu gelap bahkan untuk melihat tanganmu kamu tak mampu.

Dan ia juga hilang ketika segalanya begitu terang dan menyilaukan, bahkan untuk membuka matapun kamu tak sanggup.

Wah! Betapa banyak yang kamu korbankan hanya untuk menghilangkan bayangan yang bahkan sebenarnya bisa kamu abaikan. Sebagaimana kamu mengabaikan bayangan yang berjalan bersamamu.

Ketika bayangan itu hilang, mampukah kamu meyakinkan diri bahwa itulah kebahagiaan? Atau hanya dalam ekspektasimu semata? Sebagaimana hayalan hayalan kekanakkan yang pernah kamu buat hanya demi kesenangan. Peri, pangeran, bidadari, nirmala, sayap, tongkat ajaib, kuda semberani dan segala macam hal yang membumbui hayalan.

Allah tidak menjanjikan langit akan selalu biru, bunga selalu mekar, matahari selalu bersinar, tapi Allah menjanjikan bahwa setiap kesulitan ada kemudahan. Akan ada pelangi setelah riuhnya badai.

Luka yang tak pernah kering? Sadarilah bahwa kamu sendiri yang menggores luka itu hingga menjadikannya menganga, bahkan kamu menggoresnya setiap hari hingga tak ada kesempatan untuk mengering.

Tentang bayangan, abaikanlah perlahan, lalu biarkan ia menjadi hambar dengan sendirinya.

Menit menit yang mengiringi kehidupanmu begitu berharga, akan lebih bijak bila menjadikannya indah hingga dimenit terakhirmu. Di menit kehidupan kamu akan jumpai begitu banyak rasa. Rasa yang menjadikan corak pada lukisan perjalanan. Ada rasa yang kamu suka dan ada rasa yang tidak kamu suka. Suka dan tidak suka itu milik semua orang, bukan kamu saja. Tinggal bagaimana kamu mengelola perasaan yang berkecamuk itu.

Jadikan suka/bahagia sebagai penyemangat, dan duka sebagai penguat.

Tenangkan resah gelisahmu sebab masih ada nikmat yang melimpah.

Betapa meruginya kamu, hanya karena sebuah bayangan, buliran nikmat dari sang kuasa tak sempat kamu sadari.

….

Usap air matamu, kembangkan senyuman, lalu berjalanlah dengan bahagia. Tertawalah maka dunia akan tertawa bersamamu.

Teruntuk muridku yang dilanda rasa kecewa

@addini

Penulis:

Guru di MTs N negeri 1 Rokan Hilir, lulusan UR2015, Minang-Melayu-Indonesia Menyukai hal-hal inspiratif :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s