Diposkan pada karakter, kiasan

Marah

Smile

Orang yang sedang marah itu bagai kayu yang terbakar, semakin ia marah maka semakin membara ia, seketika orang takut, tak berani mendekat, namun tak selamanya kayu itu dapat membara, ada kalanya ia padam.

Tahu apa yang terjadi setelah itu?

Kayu yang tadinya membara, kini menjadi abu. Rapuh. Tak ada daya. Tak seorang pun yang takut pada abu, semua orang berani mendekatinya, menginjaknya, menepisnya. Yang tersisa hanyalah bekas hitam tempat ia terbakar. Orang yang lalu tak peduli mengapa ia terbakar, yang mereka tahu, bekas hitam itu begitu mengganggu.

Ketika semua telah mereda, kayu merasa hampa, ia sadar bahwa segalanya tak lagi sama.

Memang, amarahnya telah menghabisi dirinya sendiri.

Seberapa pantaskah amarah yang kita lontarkan?

Sebaik-baiknya kesabaran adalah ketika kamu lebih memilih diam, padahal dalam hatimu beribu cacian anak panah siap untuk dihujamkan

Takaran emosi orang mungkin berbeda, kesulitan untuk menahan emosi mungkin juga berbeda.

Semua hanya masalah waktu, apapun yang kita perbuat, waktu akan membuktikan kebenaran sikap kita.

Menahan amarah memang tidak mudah. Tapi ingatlah kebaikan dan balasan yang akan diterima bagi orang yang bersabar selalu lebih indah dan menyenangkan.

@addini

Diposkan pada karakter, keguruan, writting/blogging

Pendidikan sebagai Suplemen

Kegiatan di sekolah

Salah satu ciri manusia sebagai makhluk hidup adalah kebutuhan akan makan. Tanpa adanya asupan makanan yang cukup, manusia tidak bisa tumbuh dan berkembang, bahkan parahnya bisa mengakibatkan kematian.

Bobot kebutuhan nutrisi manusia berbeda-beda, selain dari makanan pokok manusia juga perlu tambahan nutrisi untuk kualitas kehidupannya. Tambahan nutrisi ini berupa suplemen yang kita sebut pendidikan. Mengapa disebut suplemen? Suplemen berguna untuk mengangkat derajat kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit, yaitu penyakit ‘tak berpendidikan’.

Memang suplemen berupa pendidikan ini bukan makanan pokok untuk kelangsungan hidup, namun mereka yang mengonsumsi suplemen tentu akan berbeda dengan hanya makan yang pokok saja. Derajat kesehatan akan lebih baik bila ditambah dengan suplemen. Mengapa harus berpendidikan? Toh, tanpa pendidikan, hidup juga akan terus berjalan, kita tetap bisa bernafas, bergerak dan melakukan aktivitas lainnya. Padahal lebih dari itu, pendidikan mampu membawa kebaikkan bagi kualitas diri seseorang. Cara pandang manusia akan kehidupan tentu akan berbeda dibandingkan bila ia tanpa pendidikan.

Didalam pendidikan ada elemen-elemen tertentu yang dibutuhkan, diantaranya berpikir dan pengetahuan. Tanpa pengetahuan manusia akan sulit berpikir, dan tanpa berpikir pengetahuan lebih lanjut tidak mungkin untuk dicapai, oleh karena itu, nampaknya berpikir dan pengetahuan mempunyai hubungan yang sifatnya siklikal (uharsputra).

Tanpa disadari atau mungkin secara sadar, banyak diantara kita yang menganggap pendidikan yang identik dengan memikirkan ini dan itu hanya menambah beban kehidupan saja. Perasaan keberatan ini bisa dilihat dari tingkah laku yang muncul, diantaranya:

  • Tidak mau mematuhi peraturan disekolah atau dari guru
  • Tidak bersemangat untuk pergi kesekolah
  • Kurang santun terhadap guru
  • Tidak bersemangat mengikuti pelajaran
  • Berprasangka terhadap guru
  • Tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru
  • Menyontek tugas siswa lain tanpa mau berusaha terlebih dahulu
  • Tidak mengulangi pelajaran dirumah atau ditempat lain selain disekolah
  • Kurang fokus dan lebih sering menghayal segala sesuatu diluar materi pelajaran sehingga sulit memahami materi

Tingkah laku yang demikian tentu sangat disayangkan sekali. Mengingat bahwa pendidikan itu sendiri tidak merugikan dirinya bahkan akan merubah dirinya supaya lebih baik. Mendapatkan pendidikan dizaman sekarang sudah sangat mudah. Terlebih sekarang pemerintah mewajibkan belajar hingga 9 tahun, sekolah sudah semakin banyak didirikan, biaya sekolah juga sudah banyak dibantu dari uang negara, ditambah beasiswa yang bisa diperoleh bagi siswa berprestasi atau kurang mampu.

Pendidikan tidak hanya tentang ilmu pengetahuan, namun juga tentang moral, etika, prilaku dan sebagainya. Berikut beberapa manfaat pendidikan:

  • Memberikan informasi dan pemahaman mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan yang terus berkembang
  • Menciptakan generasi penerus bangsa yang ahli dalam berbagai dibidang
  • Gelar pendidikan yang akan menunjukkan keahlian seseorang dalam bidangnya dan dalam pengembangan kariernya
  • Membentuk pola pikir terstruktur dan berdasarkan fakta yang ada
  • Mencegah terbentuknya generasi “bodoh”
  • Menambah pengalaman untuk membantu seseorang bekerja lebih baik
  • Mencapai aktualisasi diri
  • Mencegah terjadinya tindak kejahatan
  • Mengajarkan fungsi sosial dalam masyarakat
  • Meningkatkan produktivitas
  • Membentuk karakter yang bermartabat dan bermoral baik
  • Memperbaiki cara berpikir
  • meningkatkan taraf hidup yang memiliki rasa saling menghargai
  • Membentuk kepribadian
  • Mencerdaskan anak bangsa
  • Menjamin terjadinya integrasi sosial yaitu pemahaman mengenai fungsi sosial dalam masyarakat
  • Meningkatkan kreativitas (berbagai sumber)

Tantangan berat dalam meraih pendidikan adalah kurang adanya motivasi diri untuk meraih pendidikan.

Ketika seseorang mampu memahami tujuan dan manfaat pendidikan bagi dirinya, ia akan termotivasi untuk memperoleh pendidikan sebagai suplemen kehidupannya. @addini_

Diposkan pada karakter, nasehat, writting/blogging

Self Kontrol (Pengendalian Diri)

https://addiinimaulida22.files.wordpress.com/2018/10/img_20181027_1121074238363249550549489.jpg
Kegiatan di sekolah

Kontrol diri adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya sendiri secara sadar agar menghasilkan perilaku yang tidak merugikan orang lain, sehingga sesuai dengan norma sosial dan dapat diterima oleh lingkungannya (wikipedia)

Kita sebagai makhluk sosial yang sehari-hari bertemu dengan orang lain, hendaknya memiliki kemampuan dalam mengendalikan diri. Dalam kita bersosialisasi ada batasan-batasan yang patut kita sadari agar tetap terjalin kehidupan sosial yang damai dan harmonis. Orang lain juga ingin diperlakukan baik, sama seperti kita yang ingin diperlakukan baik.

Seorang yang memiliki kontrol diri ini akan lebih bisa mengatur dirinya sendiri agar dapat terhindar dari perilaku yang bisa merugikan orang lain. Dalam kerempongan yang nyata sekalipun mereka mampu tetap tenang dan fokus. Apapun yang terjadi mereka lebih cenderung untuk patuh dan taat dalam mengikuti suatu aturan yang berlaku didalam bermasyarakat. Kurang suka segala sesuatu yang berbau pelanggaran, bahkan sebisa mungkin mereka hindari. Menghalalkan segala cara dalam situasi apapun bukan lah prinsip mereka.

Perilaku ini bukan lah tanpa sengaja, mereka mengingatkan dirinya sendiri secara terus menerus dan membatasi dirinya akan sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, mereka menerapkan betul peraturan tersebut ke dirinya. Hingga akhirnya menjadi terbiasa dan janggal bila dilanggar.

Sering sekali kita melihat bahkan mungkin kita sendiri melakukan hal-hal yang sebenarnya kita tahu bahwa itu dilarang. Misalnya saja dalam berkendara, ketika kita akan berbelok malas menghidupkan lampu sign, dalam mengantri kita lebih suka mendahulukan diri tanpa memikirkan kepentingan orang lain, dalam berseragam seorang siswa mengeluarkan bajunya, dan tidak menggunakan atribut yang lengkap, menyontek, berbohong, berkata kasar, marah yang tak terkendali, mengatakan sesuatu yang jelas-jelas akan menyinggung perasaan orang lain, atau seorang siswa yang diam-diam pergi ke kantin pada saat jam mengajar berlangsung adalah contoh perilaku yang menandakan self kontrolnya kurang baik.

Kurang adanya self kontrol yang baik tidak hanya dapat merugikan orang lain, namun juga bisa merugikan diri sendiri. Pribadi yang kurang memiliki self kontrol yang baik ini, cenderung akan terburu-buru dalam menyelesaikan suatu permasalahan, bukankah segala sesuatu yang dilakukan terburu-buru biasanya hasilnya kurang maksimal, atau sebaliknya mereka mudah ragu-ragu dalam menyelesaikan masalah, kurang berkonsentrasi, mudah putus asa ketika masalah datang padanya, gampang mengeluh, mudah jenuh, terkadang suka membebani diri dengan sesuatu yang sebenarnya tidak ia sanggupi, ia pun mudah berlebihan dalam mengungkapkan amarahnya atau kesedihannya, dan lain sebagainya.

Amarah yang tak terkendali bisa mencelakakan orang lain bahkan diri sendiri, hal yang terjadi ketika seseorang yang marahnya tak bisa dikendalikan akan gelap akalnya dan mampu melakukan apapun, seperti melukai orang lain, menyakiti diri sendiri, bahkan pembunuhan, ini tentu merugikan dirinya. Ada juga beberapa kasus bunuh diri yang kita ketahui, sebagian besar kasus ini terjadi ketika ia merasa rendah diri dan terperangkap dalam keputusasaan. Bagaimana ini bisa terjadi? Pada intinya ketika seseorang mampu mengendalikan diri, untuk tetap tenang menghadapi apapun, bersyukur dan memahami aturan dan norma yang berlaku, serta menyadari akibat dari suatu perbuatan, tentu perbuatan seburuk itu tak akan terjadi.

Pribadi yang self kontrolnya baik tidak mudah lebay dalam menanggapi apapun disekelilingnya, bahkan bisa lebih enjoy dan lebih mudah bersyukur dengan kehidupan yang mereka jalani. Berikut beberapa contoh prilaku self kontrol

Dalam Keluarga
  • Hidup sederhana tidak suka pamer harta kekayaan dan kelebihannya.
  • Tidak mengganggu ketentraman anggota keluarga lain.
  • Tunduk dan taat terhadap aturan serta perintah orang tua.
Dalam Masyarakat
  • Mencari sahabat sebanyak-banyaknya dan membenci permusuhan.
  • Saling menghormati dan menghargai orang lain.
  • Mengikuti segera aturan yang berlaku dalam masyarakat.
Dalam Lingkungan Sekolah dan Kampus
  • Patuh dan taat pada peraturan disekolah
  • Menghormati dan menghargai teman, guru, karyawan, dll
  • Hidup penuh kesederhanaan, tidak sombong dan tidak gengsi (buku PAI)

Bagaimana Cara Mengendalikan Diri?

  • Hal yang paling ampuh untuk dapat mengendalikan diri adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT, ingatlah hanya dengan mengingat Allah SWT hati akan menjadi tenang, berdzikirlah hingga hati menjadi lapang
  • Lekaslah mencuci muka dengan air, lebih baik lagi mengambil wudhu
  • Berpikirlah positif, cobalah membuka hati dan pikiran dan temukan pandanganmu dari sisi yang lain.
  • Intropeksi diri, tenangkan dirimu, dan renungkan perkataan atau perbuatan yang terjadi, misalnya saat kita dibentak seseorang, coba pahami mungkin memang kita yang salah jika begitu ya sudah akui saja, atau mungkin seseorang itu punya masalah lain yang lebih berat hingga ia melampiaskannya ke kita, ya sudah maklumi saja.
  • Buka pikiran dan renungkan sebab akibat yang akan terjadi jika kamu lampiaskan kekesalan atau keputusasaanmu, misalnya hubungan yang tidak baik, timbulnya rasa dendam yang berkepanjangan, bisa dari kamu atau orang-orang yang kamu sakiti, sulit bergaul sehingga tidak ada teman dan sebagainya
  • Ketika emosi mu memuncak, lebih baik diam, jaga lisanmu. Memang ketika emosi, hal tersulit adalah mengontrol perkataan, ingatlah semakin banyak perkataan yang terucap ketika kita marah semakin banyak pula kita menebar kebencian, bukannya selesai malah akan memperbesar permasalahan.

Kita sebagai pribadi yang berakal dan berbudi pekerti hendaklah memiliki self kontrol yang baik. Alangkah indahnya dunia bila sesama kita mampu menjaga diri dari keburukan, Sangat menyenangkan rasanya bila bersama dengan orang yang punya pengendalian diri ini. Tak jarang mereka memiliki jalan keluar dalam permasalahan, ide mereka unik dan menarik, dan selalu menjadi tempat curhat yang menghangatkan. Tak heranlah jika mereka yang punya pengendalian diri yang baik ini disenangi banyak orang.

Semoga kita bisa menjadi salah satu dari orang-orang yang memiliki pengendalian diri yang baik ya. Mari kita mulai berlatih dari sekarang 😊

@addini

Diposkan pada karakter, nasehat, Uncategorized, writting/blogging

Hargai Mereka Agar Kamupun Dihargai

Setiap dari kita pasti ingin dihargai. Baik itu oleh yang lebih muda maupun yang lebih tua. Orang jalanan sekalipun ingin dihargai juga. Menghargai seseorang itu tidak lah sulit, namun banyak diantara kita yang agak keberatan untuk bisa lebih menghargai orang lain.

Keadaan yang dipersulit ini agak membingungkan. Ingin dihargai namun tidak bisa menghargai. Disaat kita berharap orang memberi, sementara orang itu tidak ada inisiatif untuk memberi, jangan terburu-buru untuk marah apalagi sampai ghibah. Tapi coba diingat lagi, apa kamu sudah banyak memberi dia? Bukan maksudnya untuk mengingat kebaikan diri sendiri ya, tapi untuk intropeksi diri.

Alangkah baiknya jika sebelum berpikiran buruk tentang orang lain, cerminkan dulu ke diri sendiri, apa cukup baik?

Lucu kan berharap orang memberi sementara kita sendiri tidak ingin membagi. Dont be childist, please!

Saya pernah menyaksikan dua anak kecil yang sedang bermain, kemudian datang seorang anak kecil yang lain membawa sebungkus kerupuk, bukan karena ingin bergabung, tapi mendekat hanya untuk menyombongkan makanannya. Dua anak kecil yang tidak diberi ini pun menangis, merengek kepada orang tuanya untuk membeli kerupuk juga. Tak lama dua anak kecil tadi membawa snack yang lebih banyak, mereka pun makan bersama, saling berganti snack kebetulan snack mereka berbeda rasa, bagaimana dengan anak yang tidak ingin membagi tadi? Mendekat namun sama sekali tidak digubris temannya. Ia pun pulang dan merengek minta dibelikan lagi. Anak kecilpun tau kepada siapa dia mesti menghargai.

Kita bukan anak kecil lagi, sudah seharusnya kita lebih bisa bersikap dengan baik. Walau masalah yang kita hadapi tidaklah sedangkal anak kecil itu tapi dari situ lah kita mulai. Bagaimana pun kita sudah tau mana yang baik dan mana yang tidak baik. Gak mau dong ya disamakan dengan anak kecil?

Ketika ego menguasai diri, rasa sombong dan angkuh akan membatasi diri dari sikap menghargai orang lain.

Banyak orang yang merasa dirinya akan jatuh harga dirinya ketika menghargai orang lain. Merasa bahwa ketika menyalami penjaga gudang, tersenyum kepada pemulung, menyapa penjaja keliling akan menjadikan nya sederajat dengan orang itu. Derajat yang ia kotak-kotakkan sendiri. Merasa bahwa ia diatas dari beberapa orang kebanyakan. Betapa sulit dipahami prinsip yang demikian, kesombongan inikah yang dipelajarinya disekolah? Atau dipelajarinya dirumah? Bukan! Kesombongan itu tidak dipelajari dimanapun ia berasal dari dirinya sendiri.

Orang yang berpikir akan lebih tau kemana ia bawa hati dan pikirannya.

Obatnya orang sulit menghargai dan punya rasa sombong ini cuma satu yaitu sadar diri 🙂

Apapun yang kamu tanam itulah yang akan kamu panen.

Tapi ingat ketika kita menghargai seseorang tidak serta merta menjadi kan orang itu juga menghargai kita. Tapi jangan menjadikan mu berubah. Itu lah tanda bahwa kamu menjadi orang yang lebih istimewa dibanding dirinya.

@addini

Diposkan pada karakter, keguruan, writting/blogging

Menghakimi Tanpa Memahami

Kita benar-benar buta ya. Sebenar-benar buta. Kita tidak tahu bagaimana nanti kita kedepannya. Ketika kita melakukan kebaikan sekalipun kita tidak menjamin apakah memang benar-benar kebaikan juga yang datang kepada kita. Sulit dipercaya ya. Bukan maksudnya melarang kebaikan, satu yang pasti kebaikan kita akan dibalas oleh yang maha baik, yang saya tekankan disini adalah dari orang-orang disekitar kita.

Beberapa dari pembaca mungkin ada yang mengalami seperti ini. Selalu dinilai buruk oleh pihak tertentu, adaaa aja yang bisa mereka sentil. Gagal paham juga ya sama orang yang demikian, apa faedahnyaa coba? Padahal cepat atau lambat orang juga akan mengetahui kejadian sebenarnya.

Disini saya ingin menceritakan contoh lain yang mungkin bisa jadi cerminan buat kita.

Ada beberapa murid kelas 8 di suatu sekolah, yang mendadak jadi pembangkang dan lebih bandel dibanding kelas 7 dulu. Mulai dari yang sering gak masuk, merokok, bahkan menjadi geng anak berandalan. Guru lain ada yang menyeletuk “si Fulan ini waktu saya jadi walikelas nya gak begini kok, baik dia sama saya, ditegur dong muridnya bu wali kelas masak murid nya bisa bandel begitu, jangan dibiarin gitu aja”. Beberapa orang pasti menilai walikelas Fulan kelas 7 is the best, pandai mendidik muridnya menjadi baik dan sebaliknya walikelas Fulan saat kelas 8 tidak becus mendidik, tidak pandai menasehati, dan tidak peduli dengan prilaku anak didiknya.

Kadang orang hanya pandai menilai apa yang dia lihat tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Tanpa sepengetahuan walikelas Fulan kelas 7, si walikelas Fulan kelas 8 sudah sering menasehati Fulan, bahkan Fulan sudah berbagi cerita pahit hidupnya yang seorang anak dari keluarga broken home, Ia merasa semakin kacau ketika Ibu nya menikah lagi dengan seorang lelaki yang kurang bertanggung jawab dengan keluarga. Ia merasa tidak bersemangat lagi untuk sekolah. Ibu Fulan juga sering ditelfon dan dibujuk oleh walikelasnya untuk menyemangati Fulan tetap bersekolah. Singkat cerita walikelas ini sudah berusaha maksimal. Namun, Fulan lebih memilih bebas dari sekolah, keputusannya sudah mantap untuk bekerja.

Patut diketahui bahwa tingkatan kelas itu memiliki usia perkembangan yang berbeda. Jangan dulu menyamakan perkembangan anak di kelas 7 dengan perkembangan anak di kelas 8 ataupun di kelas 9. Beda tingkatan beda pula kesulitannya. Apa bedanya sih toh masih SMP, beda nanti kalau udah d SMA kan? Perubahan dari SMP ke SMA gak serta merta, sim salabim berubah, ya gak gitu juga. Ada tingkatan yang mereka lalui. Mulai dari kelas 7 yang masih banyak nanya hal-hal kecil, seperti latihannya di buku latihan atau di buku catatan, ketika baru mau nulis latihan di papan tulis udah nanya soal latihannya berapa banyak. Di Kelas 8 nanya juga, tapi udah mulai bisa nanya yang gak sekecil itu lagi, sampai nanti di kelas 9 mereka sudah pandai menanyakan sesuatu dengan membandingkan situasi yang lain.

Mulailah untuk lebih mengerti akan setiap situasi disekitar kita, berhentilah untuk menghakimi tanpa memahami.

Bagi yang selalu dihakimi tanpa sebab, bersabarlah, jangan buang-buang tenaga dengan marah yang tak terkendali, Allah swt maha melihat sesuatu yang kita usahakan, maha mengetahui apa yang kita niatkan.

Pahami lah bahwa tidak semua orang bersikap dewasa, maka jadi lah salah satu yang bersikap dewasa.

Semoga bacaan ini bermanfaat untuk pembaca sekalian :). Mohon jika mau ngutip tulisan ini beri sumbernya ya. Tks _@addini

Diposkan pada karakter, pemimpin

Pemimpin yang Berkualitas

imagePemimpin yang berkualitas
Pemimpin yang berkualitas

Pemimpin adalah orang yang membantu diri sendiri serta orang lain dalam melakukan hal yang benar. Pemimpin lah yang mengarahkan seseorang agar mewujudkan tujuan bersama.

Pemimpin tentu akan kurang efektif jika bekerja sendiri, ia memerlukan dukungan dan kerja sama dari anggota atau staff nya.

Dalam suatu organisasi perlu ada nya suasana yang baik, yang terjalin anatara pemimpin serta staffnya, jika tidak tentu suasana mencekam serta rasa berat hati dalam bekerja yang akan muncul.

Dalam hal ini perlu adanya pemimpin yang berkualitas, yang bisa mengayomi dan mengarahkan suasana bekerja. Lalu apa saja sih sikap pemimpin yang berkualitas itu, yukk disimak…

Santun

Sikap santun merupakan dasar dalam kepemimpinan. Kemampuan untuk mudah mengungkapkan rasa hormat atau syukur dengan mengucapkan kata-kata seperti ‘tolong’ dan ‘terima kasih’.

Murah Hati

Murah hati di sini bukan berarti berkaitan dengan uang. Murah hati lebih ke arah keikhlasan Anda untuk mengabdikan waktu, usaha dan kesabaran terhadap rekan kerja Anda, teman atau orang di sekitar tanpa harus memiliki rasa ingin mendapatkan imbalan.

Rendah Hati

Ken Blanchard, seorang ahli di bidang manajemen, mengatakan “Orang yang rendah hati bukannya tidak memikirkan tentang diri mereka sendiri, namun mereka hanya mengurangi waktunya untuk memikirkan diri sendiri.”

Empati

Dengan menempatkan diri pada keadaan yang orang lain sedang rasakan, Anda akan menjadi lebih mampu dan efektif dalam memimpin sebuah tim.

Mempertimbangkan

Mempertimbangkan segala akibat dan kemungkinan yang akan terjadi merupakan kualitas umum yang harus dimiliki oleh orang yang ingin memiliki sikap kepemimpinan. Pertimbangan di sini berarti mempunyai pemikiran tulus terhadap situasi orang lain seperti kesejahteraan mereka, situasi yang sedang mereka hadapi hingga opini pribadi mereka.

Keberanian

Ada alasan di balik mengapa Aristotle menempatakan keberanian sebagai sifat dasar yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Keberanian merupakan alasan simple yang dapat membuat seseorang mengambil keputusan. Pemimpin yang terbaik adalah pemimpin yang berani dalam memutuskan pilihan-pilihan sulit dan menerima risiko demi untuk mendapatkan hasil terbaik.

Belas Kasih

Belas kasih adalah kondisi mental yang berarti mempunyai perhatian lebih terhadap mereka yang sedang memiliki nasib kurang beruntung dan aspirasi untuk membantu mereka tersebut.

Integritas

Komitmen sesorang atau kemauan untuk melaksanakan kewajiban dengan alasan yang sebenarnya, tidak perduli dengan keadaan yang sedang terjadi merupakan definisi dari integritas. Orang yang mempunyai integritas tidak mampu untuk melanggar kepercayaan yang telah diamanahkan dan sulit untuk melakukan korupsi. Mampu memilih dan menjalani yang benar terlepas dari konsekuensi yang akan diterima adalah ciri dari seorang berintegritas tinggi.

Sopan

Peter Ducker pernah mengatakan “sikap sopan bagaikan oli yang semakin memperlancar jalannya suatu organisasi.” Sikap sopan adalah sikap paling esensial yang harus dibangun agar hubungan yang profesional dapat berjalan lancar dan lama, begitupun sikap saling menghormati yang harus dibangun dalam lingkungan kantor.

Penyesalan

Bila Anda merasa telah melakukan kesalahan, janganlah ragu untuk mengatakan maaf dan menyesal telah melakukan tindakan tersebut. Dengan begitu, Anda telah menunjukkan bahwa Anda adalah pemimpin yang berjiwa besar.

Bagaimana? Tentu kita amat sangat senang bila pemimpin memiliki sikap demikian. Dan alangkah indahnya lagi bila kita semua memiliki sikap yang demikian pula. Mari mawas diri dari sekarang 🙂 @addini

JobsDB.com

Diposkan pada Anak, karakter, kebutuhan emosi dasar, kisah anak dan orang tua

Kebutuhan Dasar Anak

image
Foto: pribadi

Belakangan ini banyak terkuak berita mengenai orang tua yang tega menyiksa anak kandungnya sendiri bahkan hanya karena hal-hal sepele, masalah menggigit puting saat sedang menyusui (gak mesti ditonjok juga itu bayi ya :'(), anak yang merengek minta jajan (anak mana sih yang gak hobi jajan? Coba deh ngomong nya baik-baik gitu, “mama lagi gak ada uang nak, kalau mama belikan jajan trus nanti mau beli lauknya pakai apa dong, mama kan sedih kalau anak mama kelaparan, adek mau liat mama sedih?”), tidak bisa membaca dengan baik (coba deh ganti teknik mengajarnya), menangis tanpa henti (ya jika dibentak dan dipukul bagaimana ia mau berhenti moms? “Diam gak kalo gak mama cubit ni!” Lah makin parah 😥) bahkan yang tidak ada kaitannya dengan anak tersebut seperti karena masalah himpitan ekonomi dan sedang emosi terhadap suami. Hey!

Anak hanyalah seperti kertas putih, banyak yang mereka tidak mengerti, sehingga mereka perlu bimbingan serta perhatian dari lingkungan terdekat untuk mewarnainya…lingkungan terdekat adalah keluarga. Perhatian serta bimbingan orang tua akan mempengaruhi mereka hingga remaja serta dewasa nantinya.

Banyak dalam kehidupan sehari-hari yang dapat kita jadikan contoh.

Kisah 1;
“Ini kisah dari seorang ibu yang ditinggal kan anaknya dimasa tua, ia tinggal sendiri di rumah gedongnya, sesekali anaknya pulang hanya untuk mengambil perhiasan atau uang ibunya dan bahkan membentak ibunya lalu pergi. Miris? Ya, anak mana sih itu yang tega menyiksa bathin ibu nya yang sudah tua. Tapi mari kita lihat latar belakang hal ini bisa terjadi. Segala hal pasti ada sebabnya begitu juga karakter. Ternyata diketahui dari teman dekat si ibu, dulu, ketika si anak masih sangat kecil, si ibu jarang ada dirumah, ia hanya sibuk bersenang senang dengan teman, dan memamerkan hartanya ke orang lain, bahkan pernah juga ia berselingkuh dan tidak pulang. Lalu si anak? Begitu lah… ia tumbuh begitu saja, ayah nya pun diketahui kurang bisa mendidik si anak. Begitu lah yang terjadi hingga ia remaja, dan mulai menjadi anak yang pemberontak”.

Kisah 2;
“Di suatu bangku panjang di depan rumah sederhana, seorang ibu tampak menangis sedang menceritakan tingkah anaknya, ia merasa tersakiti oleh tingkah anaknya itu. Tak lama sebelumnya si anak pergi dari rumah membawa barang-barangnya, menuju kos sederhana yang masih berada di gang rumah ibunya. Sementara si ibu tidak memiliki cukup uang untuk membayar segala kebutuhan. Anaknya bahkan menolak memberikan uang kepada si ibu. Begitu teganya ya? Tapi coba kita telusuri lagi mengapa setega itu si anak? Anak ini sebenarnya belum cukup dewasa iya hanya baru tamat sekolah menengah atas, dan alhamdulillah mendapat pekerjaan. Pekerjaan yang ia dapat pun tidak lah memberikan penghasilan yang tinggi.

Usia seperti ini memang belum cukup dewasa terlebih lagi tidak didukung oleh faktor keluarga dan dari dalam. Dimana ia masing memiliki sikap pemberontak. Cara penyampaian yang baik sangat penting. Banyak orang tua oleh sebab ketidak tahuan dan ketidak sengajaannya ia membentuk si anak menjadi jiwa pemberontak.Tujuannya memang baik, seperti si orang tua meminta bantuan terhadap anak dalam segi keuangan. Dan memang sewajibnyalah si anak membantu orang tua. Tapi penyampaian orang tua sepertinya kurang mengenakkan ditelinga sianak. Si ibu mengungkit-ungkit apa yang sudah ia berikan ke anak, seperti kredit motornya, bahkan biaya sehari-hari yang sudah ia keluarkan “ibu kan sudah membayar kreditan motor mu, kasih kamu uang jajan (…dll) sekarang kamu kasih lah ibu uang….” si anak tentu merasa di peras, sementara uangnya tak seberapa. Bahkan hal ini selalu si ibu lakukan ketika ia baru pulang dari kerja. Bagaimana jika suasananya diganti, sore-sore sedang santai katakan padanya “nak, kita sudah dua bulan tidak bayar uang rumah, uang ibu yang dari hasil kerja ibu sudah ibu belikan beras dan untuk lauk kita semalam, boleh nak ibu pakai uang kamu dulu?” Si anak tentu merasa bangga, dan merasa dibutuhkan oleh ibunya. Pengakuan dari orang tua juga mempengaruhi pembentukan karakter loh

Itu hanya lah salah dua dari berbagai kisah yang ada. Kembali lagi bahwa pembentukan karakter sejak dini (usia 0-7 thn) sangat mempengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan kita, bagaimana cara kita memandang kehidupan, bagaimana cara kita berpikir, bagaimana cara kita bersikap, bagaimana cara kita mengendalikan emosi, dan lain sebagainya.

Pada usia emas ini (0-7 thn), anak harus memenuhi 3 kebutuhan dasar emosi, yaitu:
1. Kebutuhan akan rasa aman
2. Kebutuhan untuk mengontrol
3. Kebutuhan untuk diterima

Apabila ketiga kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi dengan baik, maka akan berdampak pada saat ia remaja maupun dewasa nantinya.

Orang tua yang bijak pasti ingin yang terbaik untuk anaknya dan memiliki harapan besar bahwa anak-anak mereka nantinya akan menjadi anak yang baik, bisa dibanggakan, serta berbakti kepada kedua orang tuanya. Nah, untuk mencapai harapan tersebut mulailah dari sekarang untuk memberi perhatian yang cukup untuk si anak, dan memenuhi ketiga kebutuhan dasar emosi untuk si anak. Mari, tak ada kata terlambat, bangun lah komunikasi yang baik untuk si buah hati moms 😉

Sumber:
Lingkungan sekitar
Timothy Wibowo : Ciri-ciri anak bermasalah