Diposkan pada Anak, karakter, kebutuhan emosi dasar, kisah anak dan orang tua

Kebutuhan Dasar Anak

image
Foto: pribadi

Belakangan ini banyak terkuak berita mengenai orang tua yang tega menyiksa anak kandungnya sendiri bahkan hanya karena hal-hal sepele, masalah menggigit puting saat sedang menyusui (gak mesti ditonjok juga itu bayi ya :'(), anak yang merengek minta jajan (anak mana sih yang gak hobi jajan? Coba deh ngomong nya baik-baik gitu, “mama lagi gak ada uang nak, kalau mama belikan jajan trus nanti mau beli lauknya pakai apa dong, mama kan sedih kalau anak mama kelaparan, adek mau liat mama sedih?”), tidak bisa membaca dengan baik (coba deh ganti teknik mengajarnya), menangis tanpa henti (ya jika dibentak dan dipukul bagaimana ia mau berhenti moms? “Diam gak kalo gak mama cubit ni!” Lah makin parah 😥) bahkan yang tidak ada kaitannya dengan anak tersebut seperti karena masalah himpitan ekonomi dan sedang emosi terhadap suami. Hey!

Anak hanyalah seperti kertas putih, banyak yang mereka tidak mengerti, sehingga mereka perlu bimbingan serta perhatian dari lingkungan terdekat untuk mewarnainya…lingkungan terdekat adalah keluarga. Perhatian serta bimbingan orang tua akan mempengaruhi mereka hingga remaja serta dewasa nantinya.

Banyak dalam kehidupan sehari-hari yang dapat kita jadikan contoh.

Kisah 1;
“Ini kisah dari seorang ibu yang ditinggal kan anaknya dimasa tua, ia tinggal sendiri di rumah gedongnya, sesekali anaknya pulang hanya untuk mengambil perhiasan atau uang ibunya dan bahkan membentak ibunya lalu pergi. Miris? Ya, anak mana sih itu yang tega menyiksa bathin ibu nya yang sudah tua. Tapi mari kita lihat latar belakang hal ini bisa terjadi. Segala hal pasti ada sebabnya begitu juga karakter. Ternyata diketahui dari teman dekat si ibu, dulu, ketika si anak masih sangat kecil, si ibu jarang ada dirumah, ia hanya sibuk bersenang senang dengan teman, dan memamerkan hartanya ke orang lain, bahkan pernah juga ia berselingkuh dan tidak pulang. Lalu si anak? Begitu lah… ia tumbuh begitu saja, ayah nya pun diketahui kurang bisa mendidik si anak. Begitu lah yang terjadi hingga ia remaja, dan mulai menjadi anak yang pemberontak”.

Kisah 2;
“Di suatu bangku panjang di depan rumah sederhana, seorang ibu tampak menangis sedang menceritakan tingkah anaknya, ia merasa tersakiti oleh tingkah anaknya itu. Tak lama sebelumnya si anak pergi dari rumah membawa barang-barangnya, menuju kos sederhana yang masih berada di gang rumah ibunya. Sementara si ibu tidak memiliki cukup uang untuk membayar segala kebutuhan. Anaknya bahkan menolak memberikan uang kepada si ibu. Begitu teganya ya? Tapi coba kita telusuri lagi mengapa setega itu si anak? Anak ini sebenarnya belum cukup dewasa iya hanya baru tamat sekolah menengah atas, dan alhamdulillah mendapat pekerjaan. Pekerjaan yang ia dapat pun tidak lah memberikan penghasilan yang tinggi.

Usia seperti ini memang belum cukup dewasa terlebih lagi tidak didukung oleh faktor keluarga dan dari dalam. Dimana ia masing memiliki sikap pemberontak. Cara penyampaian yang baik sangat penting. Banyak orang tua oleh sebab ketidak tahuan dan ketidak sengajaannya ia membentuk si anak menjadi jiwa pemberontak.Tujuannya memang baik, seperti si orang tua meminta bantuan terhadap anak dalam segi keuangan. Dan memang sewajibnyalah si anak membantu orang tua. Tapi penyampaian orang tua sepertinya kurang mengenakkan ditelinga sianak. Si ibu mengungkit-ungkit apa yang sudah ia berikan ke anak, seperti kredit motornya, bahkan biaya sehari-hari yang sudah ia keluarkan “ibu kan sudah membayar kreditan motor mu, kasih kamu uang jajan (…dll) sekarang kamu kasih lah ibu uang….” si anak tentu merasa di peras, sementara uangnya tak seberapa. Bahkan hal ini selalu si ibu lakukan ketika ia baru pulang dari kerja. Bagaimana jika suasananya diganti, sore-sore sedang santai katakan padanya “nak, kita sudah dua bulan tidak bayar uang rumah, uang ibu yang dari hasil kerja ibu sudah ibu belikan beras dan untuk lauk kita semalam, boleh nak ibu pakai uang kamu dulu?” Si anak tentu merasa bangga, dan merasa dibutuhkan oleh ibunya. Pengakuan dari orang tua juga mempengaruhi pembentukan karakter loh

Itu hanya lah salah dua dari berbagai kisah yang ada. Kembali lagi bahwa pembentukan karakter sejak dini (usia 0-7 thn) sangat mempengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan kita, bagaimana cara kita memandang kehidupan, bagaimana cara kita berpikir, bagaimana cara kita bersikap, bagaimana cara kita mengendalikan emosi, dan lain sebagainya.

Pada usia emas ini (0-7 thn), anak harus memenuhi 3 kebutuhan dasar emosi, yaitu:
1. Kebutuhan akan rasa aman
2. Kebutuhan untuk mengontrol
3. Kebutuhan untuk diterima

Apabila ketiga kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi dengan baik, maka akan berdampak pada saat ia remaja maupun dewasa nantinya.

Orang tua yang bijak pasti ingin yang terbaik untuk anaknya dan memiliki harapan besar bahwa anak-anak mereka nantinya akan menjadi anak yang baik, bisa dibanggakan, serta berbakti kepada kedua orang tuanya. Nah, untuk mencapai harapan tersebut mulailah dari sekarang untuk memberi perhatian yang cukup untuk si anak, dan memenuhi ketiga kebutuhan dasar emosi untuk si anak. Mari, tak ada kata terlambat, bangun lah komunikasi yang baik untuk si buah hati moms 😉

Sumber:
Lingkungan sekitar
Timothy Wibowo : Ciri-ciri anak bermasalah