Diposkan pada karakter, keguruan, writting/blogging

Pendidikan sebagai Suplemen

Kegiatan di sekolah

Salah satu ciri manusia sebagai makhluk hidup adalah kebutuhan akan makan. Tanpa adanya asupan makanan yang cukup, manusia tidak bisa tumbuh dan berkembang, bahkan parahnya bisa mengakibatkan kematian.

Bobot kebutuhan nutrisi manusia berbeda-beda, selain dari makanan pokok manusia juga perlu tambahan nutrisi untuk kualitas kehidupannya. Tambahan nutrisi ini berupa suplemen yang kita sebut pendidikan. Mengapa disebut suplemen? Suplemen berguna untuk mengangkat derajat kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit, yaitu penyakit ‘tak berpendidikan’.

Memang suplemen berupa pendidikan ini bukan makanan pokok untuk kelangsungan hidup, namun mereka yang mengonsumsi suplemen tentu akan berbeda dengan hanya makan yang pokok saja. Derajat kesehatan akan lebih baik bila ditambah dengan suplemen. Mengapa harus berpendidikan? Toh, tanpa pendidikan, hidup juga akan terus berjalan, kita tetap bisa bernafas, bergerak dan melakukan aktivitas lainnya. Padahal lebih dari itu, pendidikan mampu membawa kebaikkan bagi kualitas diri seseorang. Cara pandang manusia akan kehidupan tentu akan berbeda dibandingkan bila ia tanpa pendidikan.

Didalam pendidikan ada elemen-elemen tertentu yang dibutuhkan, diantaranya berpikir dan pengetahuan. Tanpa pengetahuan manusia akan sulit berpikir, dan tanpa berpikir pengetahuan lebih lanjut tidak mungkin untuk dicapai, oleh karena itu, nampaknya berpikir dan pengetahuan mempunyai hubungan yang sifatnya siklikal (uharsputra).

Tanpa disadari atau mungkin secara sadar, banyak diantara kita yang menganggap pendidikan yang identik dengan memikirkan ini dan itu hanya menambah beban kehidupan saja. Perasaan keberatan ini bisa dilihat dari tingkah laku yang muncul, diantaranya:

  • Tidak mau mematuhi peraturan disekolah atau dari guru
  • Tidak bersemangat untuk pergi kesekolah
  • Kurang santun terhadap guru
  • Tidak bersemangat mengikuti pelajaran
  • Berprasangka terhadap guru
  • Tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru
  • Menyontek tugas siswa lain tanpa mau berusaha terlebih dahulu
  • Tidak mengulangi pelajaran dirumah atau ditempat lain selain disekolah
  • Kurang fokus dan lebih sering menghayal segala sesuatu diluar materi pelajaran sehingga sulit memahami materi

Tingkah laku yang demikian tentu sangat disayangkan sekali. Mengingat bahwa pendidikan itu sendiri tidak merugikan dirinya bahkan akan merubah dirinya supaya lebih baik. Mendapatkan pendidikan dizaman sekarang sudah sangat mudah. Terlebih sekarang pemerintah mewajibkan belajar hingga 9 tahun, sekolah sudah semakin banyak didirikan, biaya sekolah juga sudah banyak dibantu dari uang negara, ditambah beasiswa yang bisa diperoleh bagi siswa berprestasi atau kurang mampu.

Pendidikan tidak hanya tentang ilmu pengetahuan, namun juga tentang moral, etika, prilaku dan sebagainya. Berikut beberapa manfaat pendidikan:

  • Memberikan informasi dan pemahaman mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan yang terus berkembang
  • Menciptakan generasi penerus bangsa yang ahli dalam berbagai dibidang
  • Gelar pendidikan yang akan menunjukkan keahlian seseorang dalam bidangnya dan dalam pengembangan kariernya
  • Membentuk pola pikir terstruktur dan berdasarkan fakta yang ada
  • Mencegah terbentuknya generasi “bodoh”
  • Menambah pengalaman untuk membantu seseorang bekerja lebih baik
  • Mencapai aktualisasi diri
  • Mencegah terjadinya tindak kejahatan
  • Mengajarkan fungsi sosial dalam masyarakat
  • Meningkatkan produktivitas
  • Membentuk karakter yang bermartabat dan bermoral baik
  • Memperbaiki cara berpikir
  • meningkatkan taraf hidup yang memiliki rasa saling menghargai
  • Membentuk kepribadian
  • Mencerdaskan anak bangsa
  • Menjamin terjadinya integrasi sosial yaitu pemahaman mengenai fungsi sosial dalam masyarakat
  • Meningkatkan kreativitas (berbagai sumber)

Tantangan berat dalam meraih pendidikan adalah kurang adanya motivasi diri untuk meraih pendidikan.

Ketika seseorang mampu memahami tujuan dan manfaat pendidikan bagi dirinya, ia akan termotivasi untuk memperoleh pendidikan sebagai suplemen kehidupannya. @addini_

Diposkan pada karakter, keguruan, writting/blogging

Menghakimi Tanpa Memahami

Kita benar-benar buta ya. Sebenar-benar buta. Kita tidak tahu bagaimana nanti kita kedepannya. Ketika kita melakukan kebaikan sekalipun kita tidak menjamin apakah memang benar-benar kebaikan juga yang datang kepada kita. Sulit dipercaya ya. Bukan maksudnya melarang kebaikan, satu yang pasti kebaikan kita akan dibalas oleh yang maha baik, yang saya tekankan disini adalah dari orang-orang disekitar kita.

Beberapa dari pembaca mungkin ada yang mengalami seperti ini. Selalu dinilai buruk oleh pihak tertentu, adaaa aja yang bisa mereka sentil. Gagal paham juga ya sama orang yang demikian, apa faedahnyaa coba? Padahal cepat atau lambat orang juga akan mengetahui kejadian sebenarnya.

Disini saya ingin menceritakan contoh lain yang mungkin bisa jadi cerminan buat kita.

Ada beberapa murid kelas 8 di suatu sekolah, yang mendadak jadi pembangkang dan lebih bandel dibanding kelas 7 dulu. Mulai dari yang sering gak masuk, merokok, bahkan menjadi geng anak berandalan. Guru lain ada yang menyeletuk “si Fulan ini waktu saya jadi walikelas nya gak begini kok, baik dia sama saya, ditegur dong muridnya bu wali kelas masak murid nya bisa bandel begitu, jangan dibiarin gitu aja”. Beberapa orang pasti menilai walikelas Fulan kelas 7 is the best, pandai mendidik muridnya menjadi baik dan sebaliknya walikelas Fulan saat kelas 8 tidak becus mendidik, tidak pandai menasehati, dan tidak peduli dengan prilaku anak didiknya.

Kadang orang hanya pandai menilai apa yang dia lihat tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Tanpa sepengetahuan walikelas Fulan kelas 7, si walikelas Fulan kelas 8 sudah sering menasehati Fulan, bahkan Fulan sudah berbagi cerita pahit hidupnya yang seorang anak dari keluarga broken home, Ia merasa semakin kacau ketika Ibu nya menikah lagi dengan seorang lelaki yang kurang bertanggung jawab dengan keluarga. Ia merasa tidak bersemangat lagi untuk sekolah. Ibu Fulan juga sering ditelfon dan dibujuk oleh walikelasnya untuk menyemangati Fulan tetap bersekolah. Singkat cerita walikelas ini sudah berusaha maksimal. Namun, Fulan lebih memilih bebas dari sekolah, keputusannya sudah mantap untuk bekerja.

Patut diketahui bahwa tingkatan kelas itu memiliki usia perkembangan yang berbeda. Jangan dulu menyamakan perkembangan anak di kelas 7 dengan perkembangan anak di kelas 8 ataupun di kelas 9. Beda tingkatan beda pula kesulitannya. Apa bedanya sih toh masih SMP, beda nanti kalau udah d SMA kan? Perubahan dari SMP ke SMA gak serta merta, sim salabim berubah, ya gak gitu juga. Ada tingkatan yang mereka lalui. Mulai dari kelas 7 yang masih banyak nanya hal-hal kecil, seperti latihannya di buku latihan atau di buku catatan, ketika baru mau nulis latihan di papan tulis udah nanya soal latihannya berapa banyak. Di Kelas 8 nanya juga, tapi udah mulai bisa nanya yang gak sekecil itu lagi, sampai nanti di kelas 9 mereka sudah pandai menanyakan sesuatu dengan membandingkan situasi yang lain.

Mulailah untuk lebih mengerti akan setiap situasi disekitar kita, berhentilah untuk menghakimi tanpa memahami.

Bagi yang selalu dihakimi tanpa sebab, bersabarlah, jangan buang-buang tenaga dengan marah yang tak terkendali, Allah swt maha melihat sesuatu yang kita usahakan, maha mengetahui apa yang kita niatkan.

Pahami lah bahwa tidak semua orang bersikap dewasa, maka jadi lah salah satu yang bersikap dewasa.

Semoga bacaan ini bermanfaat untuk pembaca sekalian :). Mohon jika mau ngutip tulisan ini beri sumbernya ya. Tks _@addini

Diposkan pada Anak, keguruan

Murid Zaman Now

Murid zaman now memang agak sedikit berbeda dengan murid zaman old ya. Mereka lebih ekspresif dan kadang juga agresif. Hampir semua ingin menunjukkan dirinya. Terlihat dari tingkah polah mereka ketika di kelas, banyak dari mereka yang rebutan ingin maju ke depan, walau hasil kerjanya masih membingungkan, walau hasil kerjanya dari hasil menyontek, tetap semangat ingin maju ke depan, terlebih jika pada materi yang sedikit mudah. Bahkan pandai pula merajuk jika tidak ditunjuk. Tidak hanya dalam suasana belajar, tetapi juga pada kertas, ya kertas ulangan maupun latihan.

Seperti pada kertas ulangan murid berikut ini, jawabannya bikin guru tercengang antara lucu tapi juga gimanaa gitu
1.

Buku latihan

Pertanyaan dari soal no.3 adalah “Jelaskan pengertian relasi dari himpunan A ke himpunan B!”
Si murid ini malah menjawab “hanya Allah yg tau dan orang yg pintar”
Hmm bagaimana? Apa memang pertanyaannya separah itu?

2.

Buku latihan

Pertanyaan untuk soal ini “Tentukan relasi yang mungkin dari himpunan A ke himpunan B!”
Beberapa murid menjawab:
“Bulan jadian”
“Bulan menikah”
“Bulan bertengkar”
“Cabut di bulan”
Dan masih banyak lagi nama relasi yang mereka sebutkan. Sayangnya cuma satu ini yang kepikiran untuk di jepret. Yaa si guru tentu merasa lucu sebab ekpektasinya hanya pada nama relasi “menyukai bulan” atau “bulan lahir”. Lah ini sampai yang segitunya.. duuhh murid zaman now.

Selama mengajar memang hal unik ini sering terjadi sih, gak cuma kertas ulangan tapi juga buku latihan. Ada-ada saja yang bisa mereka tulis.

Waktu itu ada juga tuh murid, menulis doa supaya dapat nilai seratus di buku latihannya.
Ada juga yang curhat minta maaf sebab mereka belum paham.
Kalau mengenai coret-coret di lembaran terakhir buku udah gak heran lagi ya, rata-rata mereka pada nyoret di lembaran itu. Entah itu coretan untuk menentukan hasil operasi bilangan atau juga coretan pada saat suntuk ketika tidak mendapat jawaban. Semua coret-coret selama latihan yaaa di lembaran terakhir itu, selembar latihan, selembar pula coretannya. 📝 @addini

Diposkan pada keguruan, Uncategorized

Cara Mengatasi Siswa Nakal

Siswa
Foto:pribadi

Setiap guru pasti pernah menghadapi siswa yang nakal. Walaupun sudah diingatkan berkali-kali, masih saja mengulangi perbuatannya. Kesal?! Manusiawi sih, tapi ingat! guru profesional harus mampu menahan amarahnya, sebab amarah yg tak terkendali hanya akan memperburuk suasana, terlebih lagi, siswa akan mencap buruk terhadap perlakuan guru tersebut, anak zaman sekarang lebih kritis loh buk, pak. Didukung lagi adanya UU No. 23 thn 2002 tentang perlindungan anak, yang juga mengatur tentang adanya perbuatan tidak mengenakkan terhadap siswa. Perlindungan guru? Belum ada buk, pak 😀

Memang lebih nyaman rasanya bila kita menghadapi siswa yang mudah diatur, tapi apa mungkin ada kelas yang sempurna kenyamanannya untuk mengajar? kebanyakan setiap kelas memiliki paling tidak satu siswa yang sulit diatur. Benar apa betul?? Jangan menyerah dulu pak, buk, karena disini lah kita uji profesionalitas kita dalam mengajar dan mendidik. Sabaaarr…kalau sabar bisa jadi amalan.

Oleh sebab itu lah saya akan mencoba membagi tips dalam menghadapi siswa yang sulit diatur berdasarkan pengalaman dan sumber bacaan*

A. Cerdas Membedakan Suasana
Guru jangan marah dulu jika siswa ribut hiruk pikuk, coba ditelusuri dulu, apakah mereka ribut karena membahas hal-hal yang berkaitan dengan pelajaran saat itu atau tidak. Jika ribut karena membahas soal yang mereka belum paham, biarkan saja, siswa mungkin lebih paham jika teman sebaya yang menjelaskan atau mungkin mereka saling berbagi pendapat dalam mencari jawaban soal. Tugas kita hanya mengendalikan jika sudah terlalu ribut. Tapi, jika mereka ribut oleh sebab hal hal lain, ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan:

1. Bila ada siswa yang meribut saat anda menjelaskan, berhenti sejenak, tunggu hingga kelas hening, jika beruntung siswa akan sikut sikutan untuk mendiamkan temannya. Tetaplah tenang dan tegas, tatap mata dari siswa yang ribut itu, hingga mereka diam dan sadar kesalahan mereka dan katakan “ibuk menjelaskan demi kalian, agar kalian berilmu, ibuk menyusun kata-kata demi kalian agar kalian paham, tapi apa begini balasan kalian terhadap usaha ibuk?”

2. Bila masih ada siswa yang bercerita saat guru menerangkan, coba dengan sikap tenang dan tegas, diam sejenak menatap mereka, perintahkan mereka kedepan dan menggantikan tugas anda sebagai guru dalam menjelaskan. Tujuannya agar mereka memahami sulitnya mengajar dan tidak enaknya saat tidak dihiraukan. Tapi kebanyakan siswa tidak bisa menjelaskan, hanya terlihat canggung dipandangi teman sekelasnya. Dari situ pun ia akan bisa mengambil pelajaran.

3. Bila ada siswa yang mengganggu teman sehingga membuat ribut coba suruh mereka kedepan untuk mengerjakan soal. Jika mereka kesulitan katakan “soal saja kamu sulit mengerjakannya, apalagi kamu meribut dan tidak perhatian!” sehingga mereka akan sadar kesalahan mereka.

4. Bila alternatif diatas tidak juga berhasil, perintahkan siwa yang ribut tersebut untuk berdiri kedepan dan katakan “ibu kira kamu tidak suka untuk diberi ilmu, silahkan tutup pintu dari luar, dan temui guru BK!”

5. Jika siswa bersangkutan berkali kali melakukan keributan dan tidak perhatian terhadap pelajaran, coba telusuri penyebab ia selalu tidak perhatian. Guru bisa mengundang orang tua siswa kesekolah atau bisa langsung mendatangi rumah siswa untuk bersilaturahmi dan mendiskusikan apa yang terjadi dikelas terhadap orang tuanya. Mungkin ada kasus tertentu sehingga berimbas pada kelakuan siswa.

B. Mengajarkan Kepemimpinan
Jika guru ingin menunjuk kembali siswa untuk mengerjakan soal, coba perintahkanlah siswa awal tadi untuk menunjuk siswa selanjutnya dalam mengerjakan soal. Jika ia tidak menjawab, tegaskan bahwa jika ia tidak menunjuk satupun, maka ia yang kembali akan mengerjakan soal. Sehingga ia berani mengambil keputusan untuk menunjuk temannya.

C. Membuka Pikiran Siswa
Jika siswa meminta bantuan dalam mengerjakan soal, katakanlah “loh, kenapa ibu yang menjawab, ibu kan yang membuat soal, berarti sama saja ibu tidak memberi soal untuk kalian kan” sehingga siswa akan memahami bahwa bantuan itu bukan dari pemberi soal. Dengan tidak ada nya bantuan, lain kali ia akan berusaha untuk memahami materi sehingga bisa menjawab soal.

Itu lah beberapa alternatif yang bisa dilakukan jika menghadapi siswa yang sulit diatur. Bila pembaca ada alternatif lain, bisa isi dikomen yaa….bisa tu bagi bagi pengalaman @addini

*Sumber bacaan:
Damayanti. Sukses Menjadi Guru Humoris dan Idola.2016.Araska;Yogyakarta.