Diposkan pada writting/blogging

Karantina itu bisa ngapain aja?

Kegiatankarantina
Kegiatan Karantina

Menurut wikipedia, karantina merupakan sistem yang mencegah perpindahan orang dan barang selama periode waktu tertentu untuk mencegah penularan penyakit. Karantina berakhir apabila diagnosis pasti sudah diperoleh.

Mewabahnya covid-19, mengakibatkan masyarakat harus dikarantina. Sebenarnya karantina ini merepotkan atau tidak sih? Lebih banyak untungnya atau rugi?

Merepotkan atau tidak, menguntungkan atau tidak, ini tergantung dari sisi mana kita melihat. Merepotkan tentu iya, bagi guru misalnya, diharuskan untuk tetap memberi materi selama karantina, yang harusnya bisa dijelaskan face to face, sekarang mesti memutar otak untuk mencari cara memberikan materi dan evaluasi secara online, bagi orang tua misalnya, mereka jadi repot untuk mencari cara supaya anak-anaknya tidak keluar rumah, bikin kita gak kerepotan tentu iya juga, kita tidak perlu menyiapkan segala hal pagi-pagi untuk kemudian berangkat kerja, kerja online bisa ditunda, dan bisa sambilan ngerjain yang lain, sambil nyantai juga bisa. Kalau untuk rugi, tentu ada juga, kerja online bisa jadi tidak seefektif kerja face to face. Karantina menjadikan status rencana kita pending, malah mungkin mencoret beberapa rencana yang udah dirancang sedemikian rupa. Keuntungannya pun juga ada, kita jadi bisa berkumpul seharian dengan keluarga, bisa mengerjakan hobi atau rencana yang mungkin sudah lamaaa sekali tidak dikerjakan.

Namun yang jelas, karantina ini baik bagi siapapun, terlepas dari seberapa rugi atau seberapa merepotkannya kita. Dengan karantina kita bisa memutus rantai penyebaran.

Berlama-lama dikarantina begini rasanya menjadikan tubuh lelah, penat yang padahal gak melakukan kerja berat. Makin hari rasanya tulang semakin lunak saja. Tapi ada hal-hal kecil yang menjadikan karantina ini menjadi menyenangkan.

Menurut penelitian, rasa cemas berlebihan akan menurunkan sistem imun tubuh. Jadi daripada jenuh dan stress berkepanjangan lebih baik kita gunakan waktu karantina kita dengan hal-hal yang menyenangkan saja supaya fikiran kita tetap dalam kondisi tenang, tapi bukan berarti kita cuek dengan kondisi saat ini ya, bagaimana pun rasa waspada diri mesti ada.

Oleh karena kekurang kerjaan tadi, pikiran jadi termotivasi untuk mencari kegiatan apa yang ingin dilakukan, supaya ada juga kerjaannya.

Badan jadi manja untuk terus bermalas-malasan, tulang berasa lunak, jadi kepikiran kan kalau saya itu mesti olahraga, akhirnya jadi pengen olahraga kan, paling tidak ya melakukan pemanasan dengan bekal gerakan senam yang diingat saja, lari ditempat, atau jumping rope (yang sebelumnya menggantung aja didinding rumah).

Kelas online sudah selesai, bolak balik kebelakang, kira-kira mau ngapain lagi? Ternyata ada potongan daun bawang, daun seledri dan wortel yang mulai bertunas di dapur. Akhirnya terpakai juga nih pot-pot kecil yang udah luntur warna aslinya, udah ada mungkin agak 2 tahun dirumah. Kemudian diisilah tanah dibantu adik, jadi ada kerjaan juga kan si adik di rumah.

Sampai dikamar ada buku kosong, jadi pengen coret-coret. Menggambar merupakan salah satu hobi yang udah lama gak dikerjakan, dengan karantina jadi bisa tersalurkan lagi. Gak mahir, cuma namanya hobi, apapun hasilnya, jadi ada rasa lega dan bahagia menyelesaikannya.

Pandangan mata ketika melihat rumah bisa detile begini, sampai terpikir wah… ternyata ada yang mesti dibereskan, padahal hari-hari gak kelihatan, perasaan waktu itu semuanya tampak baik-baik saja.

Buka-buka laptop jadi terpikir untuk melanjutkan tulisan yang kebanyakan dipending mengerjakannya.

Jadi nyari buku-buku yang kemarin belum selesai dibaca.

Banyak hal-hal kecil yang kemarin tidak terpikir atau malas dikerjakan sekarang malah dicari-cari dan jadi pengen dikerjain lagi.

Sementara kita baik-baik saja di rumah, di tempat lain sangat disayangkan, seperti yang kita lihat di media elektronik, beberapa oknum yang entah kenapa jadi hobi menyebarkan berita bohong, jadi saling bermusuhan, saling menuduh kesalahan siapa, saling menyalahkan, tentang karantina, tentang lockdown, tentang para medis, sementara dia sendiri tidak punya andil bagi negara atau masyarakat di sekitarnya. Sabaaar jangan terpancing. Mending ambil jumping rope lagi πŸ‘

Sedih gak tuh, lihat caption yang disampaikan oleh para tenaga medis, polisi atau pihak lain, yang dengan kondisi begini masih wajib bekerja demi negara. Mereka mengharapkan kita untuk #dirumahaja #stayhome #staysafe dan biar mereka saja yang bekerja untuk kita. Yuk doakan juga kebaikan untuk mereka.

Sekarang kita atur diri sendiri, membantu sebisa kita dengan membangun disiplin untuk melawan virus corona.

Dunia memang sedang tidak baik, namun kamu harus tetap baik dengan dirimu sendiri dan juga bagi orang lain.

@addini

Diposkan pada writting/blogging

Virus Corona, Virus yang Mendunia

Dunia sekarang sedang heboh mengenai virus baru yang disebut virus corona atau covid-19. Menjadi begitu heboh sebab munculnya begitu mendadak dan mewabah hingga kelas dunia. Virus ini belum dikenali sebelumnya oleh manusia sehingga obat nya pun belum ditemukan.

Virus corona menyebar melalui droples atau cairan yang berasal dari tubuh manusia, melalui batuk atau bersin. Melalui bersin atau batuk dari orang yang terjangkit virus ini juga bisa hinggap ke benda-benda disekitarnya. Sehingga untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, sebaiknya menjaga jarak terhadap orang lain kira-kira 1-2 meter serta menjaga diri dalam menyentuh benda-benda disekitar. Sebab kita tidak tahu siapa diantara mereka yang terjangkit.

Virus ini menyerang saluran pernafasan manusia. Gejala yang bisa ditemukan secara awam adalah berupa pilek, batuk, demam, sakit tenggorokan dan lebih parah lagi pneumonia. Penyakit ini pertama kali terjangkit di Wuhan, China. Lalu menyebar ke negara lainnya dengan sangat pesat. Dokter spesialis Erlina Burhan dari Pokja Infeksi Pengurus Pusat PDPI juga mengatakan, kasus pneumonia berat ini dimulai dari sebuah pasar ikan yang juga menjual unggas di Wuhan, Tiongkok.

Pesatnya virus corona di Wuhan, pada tanggal 2 Februari 2020 pemerintah mengambil langkah cepat untuk memulangkan kurang lebih 250 orang WNI yang ada di Wuhan, China. Namun tidak langsung ke kota asal, mereka harus dahulu dievakuasi ke Natuna, Kepulauan Riau untuk dikarantina di tempat yang sudah di tetapkan. Disana mereka diperiksa kesehatannya dan juga di semprot cairan disinfektan untuk membunuh jika saja virus itu hinggap di mereka. Pada pemeriksaan itu tidak ada satu WNI pun terdeteksi. Beberapa warga setempat sebenarnya kurang menyambut baik kebijakan ini, sebab mereka juga takut terjangkit. Hal ini pun memberi kesedihan bagi WNI yang dievakuasi sebab mereka merasa bahwa mereka juga warga Indonesia yang tidak menginginkan siapapun terjangkit. Tentu kebijakkan ini sudah dipertimbangkan matang-matang oleh pemerintah sebelumnya.

Banyak kabar simpang siur terkait awal mula kemunculan virus corona. Di media sosial tersebar kondisi kepanikan warga, mulai dari memborong makanan untuk persiapan jika saja tidak bisa keluar rumah, namun kemudian di konfirmasi bahwa itu hanya hoax. Namun yang pasti harga barang menjadi selangit, mulai dari masker, hand sanitizer, bahkan sembako. Penumpukan masker, hand santizer dan lainnya. Foto penampakan virus corona mirip serangga yang menyeramkan juga beredar hingga menimpulkan keresahan, namun ternyata juga hoax. Segala hal yang terkait virus corona pun tersebar di media sosial menimbulkan kepanikan, entah itu fakta atau pun hoax. Di lingkungan saya saja misalnya, virus corona ketika itu belum masuk ke Indonesia, nyaris panik hingga akhirnya ada salah satu yang memberi info bahwa virus corona disebabkan oleh orang Wuhan yang memakan daging mentah, binatang yang tak lazim hingga memakan janin yang notabene bukan lah makanan yang biasa kami makan, kami pun merasa aman, dan dilanjutkan pula oleh ucapan menteri kesehatan yang menyatakan bahwa
Apakah mungkin karena kita sering minum jamu? Atau mungkin karena kita sudah kebal dari dulu karena sudah sering kena batuk pilek, jadi begitu ada virus dikit saja virusnya mental,” kata Doni dalam acara Seminar Nasional bertajuk ‘Penerapan Inovasi Teknologi dan Pendekatan Ekosistem dalam Penganggulangan Bencana Berbasis Kearifan Lokal’ di Graha BNPB, Jakarta, Senin (24/2/2020). Dengan berbagai cara pemerintah tampak berusaha menenangkan warga. Walau terkadang tampak dibuat-buat, virus merupakan penyakit mewabah dan hal buruk apapun bisa terjadi. Bagaimanapun negara kita masih negara berkembang, dimana fasilitas tenaga dan alat untuk mendeteksi serta perawatan masih belum secanggih di negara maju seperti di China.

Pada akhirnya Indonesia tak bisa bertahan, pada tanggal 2 maret 2020 diinfokan oleh presiden RI Joko Widodo, bahwa ada 2 warga terjangkit virus corona setelah bertemu dengan warga Jepang. Tidak perlu waktu lama, virus itu menyebar dengan sangat cepat hingga hari ini 18 Maret 2020 sudah ada 227 orang positif terjangkit, 19 orang diantaranya meninggal. Hingga sangat disayangkan dalam waktu yang sangat sebentar Indonesia menduduki peringkat ke-2 kematian akibat virus ini, bahkan mengalahkan negara asal virus ini menyebar.

Fachri Muchtar merupakan salah satu akun twitter dari pasien suspect covid-19, ia mencurahkan isi hatinya dalam bentuk thread twitter,
Gua resah dengan kondisi saat ini, gua pengen speak up sebagai pasien suspect Covid-19. Gua akan cerita tentang pengalaman gua sebagai pasien di salah satu RS Rujukan di Jakarta dan keresahan gua terkait corona. A thread!!” begitu ia memulai ceritanya. Ia bercerita bagaimana susah dan cemasnya menjadi pasien yang masih notabene seorang suspect Covid-19. Beberapa pasien yang bernasib sama di kumpulkan dalam satu ruang isolasi berukuran 2×3 meter untuk beberapa lama, dalam ruangan sudah ada 3 bed dan mereka ada 6 orang, sempit, dan pasti berdekatan terlebih bila ada yang berbaring. Kebayang gak tu, gimana kalau salah satunya memang positif terjangkit, dengan ruangan sesempit itu, yang sehat pun akan bisa tertular kan?

Segera setelah membaca thread ini saya menjadi cemas berlebihan, berpendapat bahwa negara sedang tidak siap menangani pasien suspect covid-19. Tapi tunggu dulu, mereka sudah pasti ditangani oleh dokter yang lebih mengetahui banyak hal dibanding saya yang orang awam.

Langkah termudah (dibandingkan hal modern lainnya) untuk mencegah terjangkit virus ini adalah menahan diri untuk tidak menyentuh wajah sebelum mencuci tangan pakai sabun dan juga seperti di sebutkan sebelumnya yaitu menjaga jarak dari orang lain kira-kira 1-2 meter.

Pemerintah Riau sudah mulai memberi kebijakan bagi beberapa pihak untuk dikarantina di rumah masing-masing, agar mengurangi aktifitas diluar ruangan. Tepat tanggal 16 Maret 2020 diberi kebijakan bagi guru dan murid sekolah tempat saya mengajar dan juga beberapa sekolah didaerah sini untuk dikarantina di rumah masing-masing.

Semoga kita terhindar dari segala macam penyakit berbahaya.

_Addini

Diposkan pada writting/blogging

Bukan Hanya Kamu

Merasa Berharga

Dunia terkadang seperti sedang berlaku baik kepadamu, namun juga terkadang terasa jahat.

Waktu terus berjalan, kadang terasa lambat kadang juga terasa cepat.

Ia terus berjalan membasuh beberapa lukamu namun juga menarik beberapa kebahagiaanmu. Mau tak mau juga meninggalkan jejak dalam ingatanmu.

Lalu,

Kapan kamu mulai menyadari bahwa bukan hanya kamu yang sedang mengalami situasi yang sulit?

Kapan kamu mulai menyadari bahwa bukan hanya kamu yang ingin menjadi seseorang yang lebih baik?

Kapan kamu mulai menyadari bahwa bukan hanya kamu yang punya keperluan?

Kapan kamu mulai menyadari bahwa di semesta ini bukan hanya tentang kamu?

Ingin segera sampai ke tujuan, ingin segera menyelesaikan urusan, ingin mendapatkan uang yang lebih banyak, ingin mendapatkan segala yang terbaik, ingin mendapat tempat tinggal dan makanan yang layak, ingin dimengerti.

Keinginan ini bukan hanya milik kamu.

Jadi,

Kapan kamu mulai menyadari bahwa kamu bukan lah seorang permaisuri yang dapat dengan mudah menyelesaikan semuanya, mendapatkan semuanya, dan merasa bahwa kamu lah satu-satu nya yang harus segera dikabulkan permintaannya.

Kapan kamu mulai menyadari bahwa tanpa ada kamu semesta masih bisa berjalan sebagaimana biasanya.

Matahari bersinar, bintang berkerlipan, bunga bermekaran, sungai mengalir, angin bertiup, kicauan burung, langit masih biru ketika siang lalu menjadi gelap ketika malam, pelangi masih dengan warna yang sama, tiap orang masih mengerjakan apa yang semestinya mereka kerjakan.

Tak ada bedanya…

Jadi,

Kapan kamu mulai menyadari bahwa bukan hanya kamu yang merasa berharga di semesta ini?

@addini

Diposkan pada writting/blogging

Dua Sisi Mata Uang

Tiap orang punya cara fikir yang berbeda dalam melihat kehidupan. Pada selentingan orang, ketika orang lain terlihat berbeda dari apa yang dia fikirkan maka dia akan berusaha menunjukkan rasa tidak sukanya tersebut dalam bentuk apapun. Seolah begitu dewanya ia ingin mengajak orang lain agar sekotak dengannya.

Boleh saja kita berusaha ingin memuaskan cara fikir setiap orang tapi kita harus siap terluka lebih banyak.

Ketika berusaha menjadi yang diinginkan oleh seseorang, bisa jadi satu orang yang lain akan merasa kecewa sebab kamu tidak seperti biasa yang dia kenal. Ingat lagi ucapan Dika terhadap Rara dalam film imperfect,Ajarkan aku mencintai kesempurnaanmu, karena aku sudah terlanjur mencintai ketidak sempurnaanmu” Ketika itu Rara berubah dari dirinya yang biasa. Kondisi begitu sulit ketika kamu ingin memperbaiki diri namun orang lain tidak paham akan usahamu. Mereka malah merasa kurang nyaman dengan hasil perbaikan yang kamu usahakan.

Kamu juga tidak bisa memaksa setiap orang sependapat denganmu. Tiap kita punya bisikkan hati masing-masing dan alam fikiran masing-masing. Cara kita memandang masalah bisa dari segi manapun, bahkan ketika kita pro dengan suatu hal, tidak melulu alasan pro kita sama.

Kita memberi kotak dalam beberapa hal. Lalu berbondong-bondong memasukki kotak tersebut dengan cara apapun. Nyaris seperti memaksakan diri. Lalu bagaimana dengan yang tak berada dalam kotak tersebut? Tersisihkan, dan terjadilah perundungan tak berfaedah. Padahal kotak itu dibentuk dan diisi oleh manusia yang tidak sempurna.

Anehnya, ketika perundungan tersebut berasal dari seseorang yang bahkan tak lebih baik.

Ahh..media sosial! Adalah tempat begitu banyak perundungan verbal, meski tak begitu mengenal lebih dekat, mereka menilai hanya dengan apa yang “terlihat”.

Pada satu kasus, beberapa orang membenci hanya karena yang dibenci tidak berada pada pihak yang dia dukung. Oleh karena rasa “kecewa” nya ini, segala hal tentang orang itu menjadi begitu buruk, apapun yang dilakukan orang itu seolah tak ada benarnya, lebih parah lagi dengan mengaitkan apapun disekitar orang itu dan apapun yang berhubungan dengan orang itu menjadi sangat hina.

Ekspektasi sosial benar-benar menjengkelkan ketika mulai merambah pada takaran berlebihan.

Sampai kapan kamu meneteskan nila pada susu sebelanga?

Bisa jadi orang itu memang tak benar tapi tak berarti kita menjadi boleh tak berkehoomanan seperti itu. Dengan kita berkata hina hingga tanpa tata krama, menunjukkan bahwa kita sama tak benarnya dengan yang kita hinakan.

Kita terlalu bersemangat mencari orang untuk disalahkan ketimbang lebih memilih untuk sadar akan kesalahan sendiri.

Memang begitu banyak situasi yang bagai sisi mata uang. Dilihat dari sisi manapun tetap saja uang. Tinggal bagaimana kita bisa paham satu sama lain dan menyadari kesalahan satu sama lain. Bisa jadi sama salahnya atau bisa jadi sama benarnya.

@addini

Diposkan pada writting/blogging

Libur Sekolah Karena Asap

Asap Didaerah Kami

Beberapa hari ini matahari kami tak segarang dulu. Ia tak seputih dulu, tak secerah dulu, sepanjang hari ia berwarna jingga dan kamipun mampu menatapnya. Bukan karena embun, tapi karena asap yang memenuhi langit kami. Udara serasa tak menentu, tampak redup namun terasa panas dan kering. Kesehatan kami mulai goyah, beberapa diantara kami mulai flu, dan batuk. Kami yang awam ini sungguh kurang paham apa yang sedang terjadi, ditambah lagi kami tidak memiliki papan digital pengukur udara yang mampu menunjukkan seberapa bahaya nya keadaan ini. Tidak ada takaran bahaya di tempat kami, yang kami tahu asap ini mulai menebal, tower kami pun sudah tak tampak lagi ujungnya. Asap mulai memenuhi kebun sawit kami. Dedaunan dipohon tampak tak sehijau kemarin. Asap mulai menghalangi pandangan kami.

Asap ini memang tak sepekat kota disana, namun kering ini sudah terasa, tegukkan air menjadi begitu dikejar. Beberapa artikal menuliskan korban dari udara yang berasap, ada yang pingsan bahkan hingga harus dirawat di Rumah sakit. Tapi kami tidak menyadari apakah kami benar-benar dalam bahaya. Apakah memang sebahaya itu?

Atas perintah surat edar, sekolah mulai diliburkan, murid dianjurkan untuk belajar di rumah, namun bukan menyambut baik beberapa wali murid menyayangkan kebijakan ini. Walaupun sekolah diliburkan anak-anak tetap tidak betah main di rumah tetap saja menghirup asap, lebih baik berada di kelas sekolah toh sama saja dengan ruangan rumah, di rumahpun menghirup asap juga, libur sekolah bukannya meniadakan asap tapi malah meniadakan pengetahuan katanya begitu. Tanpa mereka sadari ini melukai hati beberapa pihak, disatu sisi pihak sekolah ingin menjaga kesehatan murid, disisi lain ingin juga menyelesaikan kegiatan pembelajaran. Imun tubuh kita berbeda-beda, ada yang kuat ada juga yang lemah, begitu juga dengan murid. Bagi imun tubuh yang kuat insyaallah akan baik-baik saja, namun bagaimana dengan imun tubuh yang lemah? Bisa jadi akan berakibat fatal. Untuk menghindari hal-hal negatif yang tidak diinginkan, sekolah berupaya melakukan sebaik mungkin sehingga diberikanlah kebijakan untuk sementara waktu mengurangi kegiatan murid diluar ruangan dengan meniadakan kegiatan sekolah agar tidak terpapar asap yang semakin pekat.

Pihak sekolahpun tentunya juga menyayangkan libur nya sekolah, sebab ini dapat menghambat kegiatan yang sudah dirancang, rencana pelaksanaan pembelajaran sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi. Lalu harus lagi menyusun ulang rencana untuk dapat menyelesaikan pembelajaran setelah beberapa waktu terambil. Kegiatan pembelajaran yang harus rampungpun menjadi makin kejar-kejaran. Kasihan murid menjadi ketinggalan pelajaran.

Kesehatan lebih utama dari segalanya, tentu kita tidak ingin siapapun jatuh sakit karena kelalaian yang sebenarnya bisa dihindari. Itulah usaha dari sekolah demi menjaga kesehatan anak dari bapak dan ibu, selanjutnya diserahkan ke bapak dan ibu dalam menjaga kesehatan anak di rumah. Jadi marilah sama-sama kita saling menjaga anak kita dari hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi akibat asap ini, begitulah harapan kami πŸ™‚

_addini

Diposkan pada kiasan, writting/blogging

Rindu yang Menikam Kalbu

Rindu adalah teguran ringan bahwa kamu ingin bertemu. Tiadalah halangan bila ingin diusahakan, bertemu, lalu rindu pun terobati. Tapi bagaimana bila rindu itu dialamatkan bagi seseorang yang sudah tidak kamu temukan lagi didunia?
Kemana kaki hendak melangkah? Kemana mata hendak memandang? Kemana raga ingin dihantarkan? Usaha apa yang mesti diusahakan? Beribu macam rasa begitu melilit di hati.

Seketika kamu menjadi serba salah, sementara rindu semakin menikam kalbu.

Ingatlah, hidup itu fana. Kematian lah yang diharapkan mampu menyadarkanmu.

Rindu memang tak bisa kamu hapus begitu saja. Pun segala yang terasa dihati tak mampu serta merta terhapuskan.

Bungkuslah rindu mu di dalam doa. Lalu simpan rapi di hati. Bentuk ikhlasmu padaNya adalah satu kesenangan bagi dia.

Tangis bukanlah pengobat, dan pula rindu bukanlah suatu kesedihan yang mesti ditangisi.

πŸŒΌπŸ’•

@addini

Diposkan pada writting/blogging

Menghapus Postingan Lama diFaceBook

Pagi yang kurang kerjaan, iseng membuka profil facebook sendiri. Gulir dan gulir sampailah disebuah status yang sudah dibuat bertahun-tahun yang lalu. Terkejut dan merinding bukan main membaca status tak terduga! Dan mulai mengingat apa ini memang saya yang tulis? Ingat mengingat dan akhirnya sadar bahwa memang ini saya yang tulis.

Ada status dengan bahasa alay, lengkap dengan cara penulisan yang agak rempong, huruf besar lalu huruf kecil digado-gadoin, kutipan lirik lagu galau lengkap dengan emot galau berlebihannya, status dengan emot alay terlalu banyak yang bikin sakit mata. Belum lagi foto dengan pose mengimut-imutkan diri yang terlalu menggelikan untuk dilihat, dan foto dengan pose tanpa pertimbangan yang matang. Intinya postingan ditahun-tahun itu dipenuhi dengan postingan alay yang hakiki.

Status Alay

Mungkin beberapa dari pembaca juga merasakan apa yang saya rasa ketika melihat status facebook zaman dahulu kala. Mulai merinding membayangkan tanggapan orang lain ketika membaca status tersebut. Terlebih pengaruhnya dengan profesi kita yang dituntut untuk bisa digugu dan ditiru.

Pada saat itu memang tidak terpikir akibat apa yang akan ditimbulkan dari postingan tersebut. Melihat status muncul dilinimasa (beranda) saja sudah bahagia, apalagi sampai ada yang komen atau like. Bisa dikatakan wajar karena memang saat itu masih pada usia remaja, yang pada dasarnya tidak terlalu memikirkan resiko, walau pun tidak secara keseluruhan namun pada zamannya alay sedang meraja lela. Namun apakah ada pertimbangan postingan ‘sebagai remaja’ pada saat seseorang membacanya sekarang? Yah tentu tidak. Terlebih bila saja kamu sekarang adalah seorang atasan yang disegani, dan ternyata postinganmu yang dulu adalah seseorang yang alay. Membanting sekali dengan imej yang sudah kamu bangun. Memang tak bisa dipungkiri orang akan mulai membandingkan bagaimana kamu dulu dengan kamu yang sekarang.

Seiring berjalannya waktu sikap kita mulai berubah, mulai memikirkan sebab dan akibat dari perbuatan yang dilakukan. Cara berpikir kita yang mulai bijak ini bentuk upaya menghindarkan diri dari resiko yang akan ditimbulkan, baik dalam mengambil keputusan, berkata-kata, berperilaku, termasuk juga memutuskan postingan apa yang patut untuk dipublikasikan.

Beberapa perusahaan kini pun mulai selektif menyaring pekerjanya, bahkan menilai kepribadian calon pekerja dengan melihat postingan yang ada pada media sosialnya. Siapa sangka bahkan postingan yang dulunya kita anggap sepele kini menjadi begitu diperhitungkan. Pada kasus lain, bisa kita lihat beberapa artis atau tokoh politik yang menghebohkan publik akibat dari postingan dahulu kala yang dimunculkan kembali oleh selentingan orang untuk mencemarkan nama baiknya. Postingan yang sebenarnya banyak dipublis oleh orang awam menjadi begitu menghebohkan ketika itu dipublis oleh tokoh terkenal dan berpengaruh dimasyarakat.

Bisa jadi bukan sekarang tapi nanti kita pun akan menjadi orang yang diintai gerak-gerik nya. Mulai sekarang, ada baiknya berhati-hati dalam memosting sesuatu. Apalagi nih yang sudah mulai beranjak usia dewasa. Lalu bagaimana dengan status kita yang sudah lewat? Bisa jadi kita tidak sadar bahwa ada beberapa orang yang kurang kerjaan atau memang ingin menjatuhkan kita dengan mencari info untuk dijadikan bahan cemoohan. Naudzubillah! Atau bisa jadi seseorang yang menaruh hati pada kita sedang menilai melalui postingan yang pernah kita bagikan (geer bener ya).

Sebelum terlambat sama sekali, yuk kita cek postingan yang telah lalu bilamana ada postingan yang agak ‘ceroboh’ untuk dihapus. Ini langkah-langkahnya:

  1. Login facebook
  2. buka profil-mu
  3. klik filter postingan yang ada pada linimasa (dibawah sorotan cerita)
  4. pada menu buka, pilih tahun yang akan dicek
  5. pilih selesai, maka pada linimasa akan muncul postingan pada tahun yang kamu pilih
  6. bila ingin menghapusnya pilih menu (berupa tiga titik) pada postingan, bisa diedit, bisa dihapus atau batasi privasi.
  7. bila ingin mengecek tahun yang lain, lakukan kembali dari langkah 3 diatas.

Demikian lah cara untuk menghapus postingan lama difacebook yang mungkin tidak ingin kamu munculkan kembali pada linimasa. Semoga bermanfaat πŸ™‚

@addini

Diposkan pada Dongeng

Bona Si Gajah yang Gendut

Kartun gajah

Bona adalah seekor gajah pemalu yang ingin sekali berteman. Hari ini adalah hari kepindahannya di hutan yang baru. Ditempat yang baru, bona ingin sekali mencari teman. Ketika berjalan-jalan mengenali lingkungannya, ia melihat musang dikejauhan. Ia mendekati musang lalu mulai memperkenalkan diri. “maukah kamu berteman denganku?” musang tertawa, “kamu ingin berteman denganku? Tapi kamu gendut sekali” ia tertawa keras, Bona menjadi sedih lalu ia berlari ke kolam, ia bertemu dengan kijang, dan menanyakan hal yang sama, “wah saya suka sekali dengan hewan gendut sepertimu” lalu mereka berjalan-jalan bercerita segala hal. Bona senang sekali sebab ia telah mendapatkan seorang teman yang menerima kekurangannya, hingga dirumah ia tidak sabar hari berlalu agar bisa bermain lagi dengan temannya, musang.

Pagi pun tiba, Bona berjalan dengan riang menemui kijang. Namun setibanya ia ditempat kijang, Ia terkejut ketika kijang sedang asik bermain dengan panda. Dengan kecewa Bona mendekati mereka, “kijang, bukankah kita akan pergi ke bukit?” kijang mendongak melihat Bona, “aku rasa, aku berubah fikiran, saat ini aku ingin bermain dgn panda saja” lalu mereka kembali bermain tanpa mengajak Bona ikut serta. Padahal kijang pernah mengatakan bahwa ia menyukai hewan gendut sepertiku, tapi mengapa aku ditinggalkan?

Bona merasa sedih, ia berlari ke taman. Sampailah Bona di taman, Di sana ia melihat kelinci, bona mendekati kelinci dengan ramah, “aku tak ingin berteman dengan hewan gendut sepertimu” ucap kelinci ketus, lalu masuk ke liangnya. Bona merasa terpukul. Tidak lama kemudian ia bertemu dengan zebra, “kamu anak baru ya?” tanya zebra “iya betul, aku Bona, maukah kamu berteman denganku?” zebra mengangguk, “tentu saja, mau kutunjukkan kolam yang bagus disini?” Bona mengangguk, lalu mereka berjalan ke kolam lumpur yang begitu luas. Disana mereka berlarian saling mengejar. Bona selalu tertinggal jauh, sebab ia terlalu sulit membawa badan nya yang gendut.

Waktu berjalan cepat, Hari pun petang, mereka berjalan kerumah masing-masing, sebelum berpisah jalan, zebra berkata kepada Bona “sebaiknya kamu kurangi berat badanmu, aku lebih suka dgn teman yg kurus dan berlari cepat”, Bona terkejut “baiklah, aku akan coba” keesokkan harinya, Bona tidak bermain dengan temannya, ia sibuk berolahraga utk mengurangi berat badannya, ia berlatih seharian, dan tidak makan hingga larut malam dan akhirnya ketiduran di depan rumah.

Usaha Bona tidak sia-sia, kini ia lebih kurus dari kemarin. Tak sabar ia ingin menjumpai zebra, mungkin saja zebra juga rindu kepadanya sebab kemarin tidak berjumpa. Dengan hati riang ia menjumpai zebra untuk menunjukkan badan indahnya. Tapi zebra tidak dirumah, lalu ia menuju kolam lumpur, pasti zebra disana, tebaknya. Benar saja, zebra memang disana tapi bersama gajah yang lebih gendut darinya, mereka bermain lumpur. Gajah itu menyemburkan lumpur ke zebra yang bergembira. Bona mendekat, teman zebra itu bertanya kepada zebra “siapa dia?”, zebra menatap Bona, “aku tidak kenal” lalu mereka berlarian menjauh. Ternyata zebra tidak mengingatku, dan ia tidak kehilanganku sama sekali padahal kemarin tidak bertemu. Bona merasa kecewa, masih terekam jelas diingatan ucapan zebra kemarin, bahwa ia menyukai hewan yang tidak gendut, lalu menyuruhnya untuk menguruskan badan, tapi sekarang ketika ia sudah kurus, zebra malah pergi dengan temannya yang lebih gendut. Bona tidak mengerti.

Bona merasa sangat sedih, ia berjalan lunglai kembali kerumah, lalu memakan semua stok makanannya sebab ia terlalu lapar. Badannya pun kembali seperti semula.

Bona merasa sepi, ia sedih tidak ada yang menyukainya dan mencoba menghibur diri dengan berjalan-jalan. Belum terlalu jauh ia berjalan, ia pun berhenti di taman, sebab ia terlalu lelah membawa badannya yang gendut. Taman juga sedang sepi, menambah rasa kesedihan dihatinya, ia pun duduk di rerumputan menikmati semilir angin, berharap sedih ini juga terbawa oleh angin.

Tiba-tiba ia terkejut melihat musang mendekat, ia siap-siap ingin berlari, sebab merasa jengkel kepada musang yang telah menertawakannya karena gendut. “hei Bona, kenapa kamu lari? Bukannya kamu mau berteman denganku?” ucap musang sambil tersenyum lebar. Bona merasa heran, ada apa dengan musang ini? Melihat bona yang diam saja musang melanjutkan ucapannya “aku mencari mu tiap hari, aku ingin minta maaf telah menertawakanmu tapi kamu tidak ada, alamatmu aku juga tidak tahu, ” Bona sedikit merasa lega, ternyata musang tahu kesalahannya, “baiklah, sudah aku maafkan” kata Bona, “syukurlah, di seberang sana ada pertunjukkan, yok kita nonton sama-sama” ucap musang itu lagi seraya menarik belalainya. Ternyata musang tidak seburuk yang dikira, dia hewan yang ceria, dengan terbuka mengucapkan semua yang ada difikirannya, dan menjadikannya lawakan.

Setiba di tempat pertunjukkan beberapa hewan telah berkumpul. Seekor kancil menertawakan Bona yang berjalan bersama musang. Bona menjadi sedih dan ingin berlari, namun musang menahannya, dan menegur kancil yang tidak ada sikap sopan terhadap hewan lain. Bona pun merasa terharu, padahal musang juga pernah menertawakan bentuk tubuhnya namun ketika kami sudah berteman, musang lah yang pertama kali melindungi dan menghiburnya dari ejekkan hewan lain

Bona tidak peduli lagi bahwa musang pernah menertawakannya, yang ia tahu musang kini menjadi teman yang walaupun sadar kekurangannya, bahkan juga ikut menertawakan kekurangannya, namun ketika ada yang mengejek kekurangannya ia berada paling depan, dan tidak pernah menjauh. Kini Bona dan musang selalu pergi bermain bersama. Mereka tidak ingin saling meninggalkan.
(sebuah dongeng karya @addini)

Diposkan pada kiasan, Uncategorized

Menjelang Tidur

Sepi dan sunyi, hanya desauan angin mengisi kekosongan malam, sesekali juga terdengar aungan mesin kendaraan dari jauh, kemudian sunyi kembali. Hari ini tidak ada ketukan burung pelatuk, hujan hari ini tak juga mengundang nyanyian kodok, dan kemana para jangkrik?

Sudah waktunya terlelap bahkan sudah begitu jauh dari biasanya, namun aku masih saja berada diantara nyata dan maya. Kesunyian ini menggerakkan putaran waktu dalam bayangan. Membalikkannya kebelakang. Sebagian ingin menghilang namun masih berkubang.

Ada tanya dan sesal yang bergejolak hebat difikiran.

Hari ini…
Apa yang sudah dilakukan?
Apakah yang dikerjakan hari ini benar-benar berguna?
Kelalaian apa saja yang sengaja dan tak sengaja dilakukan?

Sudah benarkah apa yang dikerjakan?

Adakah perlakuan yang salah?
Apakah ucapan tadi menyakitkan?

Adakah yang marah?

Adakah yang tersakiti?

Bertubi-tubi menjadikan anak panah yang menghujam tepat di satu target.

Semakin larut dalam malam semakin kalut pula dalam fikiran.

Waktu terus berjalan sedang fikiran masih terkungkung dibelakang.

Cepatlah terlelap~

(pada suatu malam yang terlalu pagi)

22052019
@addini

Diposkan pada kiasan, nasehat, writting/blogging

Mengabaikan Bayangan

Pagi yang cerah menjadi berubah. Kamu yang mengakhiri pagi dengan bahagia kini tak lagi sama. Kamu menjadi bukan kamu yang kemarin. Hari demi hari yang kamu jalani menjadi begitu suram sejak sebuah bayangan mengeruhkan segala apa yang ada dalam fikiranmu. Hingga suatu saat kamu berpikir ingin lari darinya, menganggap bahwa pelarianmu mampu merubah segalanya.

Tidak asing lagi bahwa ditempatmu berdiri juga ada bayangan yang berjalan bersamamu, ia hilang ketika segalanya begitu gelap bahkan untuk melihat tanganmu kamu tak mampu.

Dan ia juga hilang ketika segalanya begitu terang dan menyilaukan, bahkan untuk membuka matapun kamu tak sanggup.

Wah! Betapa banyak yang kamu korbankan hanya untuk menghilangkan bayangan yang bahkan sebenarnya bisa kamu abaikan. Sebagaimana kamu mengabaikan bayangan yang berjalan bersamamu.

Ketika bayangan itu hilang, mampukah kamu meyakinkan diri bahwa itulah kebahagiaan? Atau hanya dalam ekspektasimu semata? Sebagaimana hayalan hayalan kekanakkan yang pernah kamu buat hanya demi kesenangan. Peri, pangeran, bidadari, nirmala, sayap, tongkat ajaib, kuda semberani dan segala macam hal yang membumbui hayalan.

Allah tidak menjanjikan langit akan selalu biru, bunga selalu mekar, matahari selalu bersinar, tapi Allah menjanjikan bahwa setiap kesulitan ada kemudahan. Akan ada pelangi setelah riuhnya badai.

Luka yang tak pernah kering? Sadarilah bahwa kamu sendiri yang menggores luka itu hingga menjadikannya menganga, bahkan kamu menggoresnya setiap hari hingga tak ada kesempatan untuk mengering.

Tentang bayangan, abaikanlah perlahan, lalu biarkan ia menjadi hambar dengan sendirinya.

Menit menit yang mengiringi kehidupanmu begitu berharga, akan lebih bijak bila menjadikannya indah hingga dimenit terakhirmu. Di menit kehidupan kamu akan jumpai begitu banyak rasa. Rasa yang menjadikan corak pada lukisan perjalanan. Ada rasa yang kamu suka dan ada rasa yang tidak kamu suka. Suka dan tidak suka itu milik semua orang, bukan kamu saja. Tinggal bagaimana kamu mengelola perasaan yang berkecamuk itu.

Jadikan suka/bahagia sebagai penyemangat, dan duka sebagai penguat.

Tenangkan resah gelisahmu sebab masih ada nikmat yang melimpah.

Betapa meruginya kamu, hanya karena sebuah bayangan, buliran nikmat dari sang kuasa tak sempat kamu sadari.

….

Usap air matamu, kembangkan senyuman, lalu berjalanlah dengan bahagia. Tertawalah maka dunia akan tertawa bersamamu.

Teruntuk muridku yang dilanda rasa kecewa

@addini