Diposkan pada kiasan, writting/blogging

Rindu yang Menikam Kalbu

Rindu adalah teguran ringan bahwa kamu ingin bertemu. Tiadalah halangan bila ingin diusahakan, bertemu, lalu rindu pun terobati. Tapi bagaimana bila rindu itu dialamatkan bagi seseorang yang sudah tidak kamu temukan lagi didunia?
Kemana kaki hendak melangkah? Kemana mata hendak memandang? Kemana raga ingin dihantarkan? Usaha apa yang mesti diusahakan? Beribu macam rasa begitu melilit di hati.

Seketika kamu menjadi serba salah, sementara rindu semakin menikam kalbu.

Ingatlah, hidup itu fana. Kematian lah yang diharapkan mampu menyadarkanmu.

Rindu memang tak bisa kamu hapus begitu saja. Pun segala yang terasa dihati tak mampu serta merta terhapuskan.

Bungkuslah rindu mu di dalam doa. Lalu simpan rapi di hati. Bentuk ikhlasmu padaNya adalah satu kesenangan bagi dia.

Tangis bukanlah pengobat, dan pula rindu bukanlah suatu kesedihan yang mesti ditangisi.

πŸŒΌπŸ’•

@addini

Diposkan pada kiasan, Uncategorized

Menjelang Tidur

Sepi dan sunyi, hanya desauan angin mengisi kekosongan malam, sesekali juga terdengar aungan mesin kendaraan dari jauh, kemudian sunyi kembali. Hari ini tidak ada ketukan burung pelatuk, hujan hari ini tak juga mengundang nyanyian kodok, dan kemana para jangkrik?

Sudah waktunya terlelap bahkan sudah begitu jauh dari biasanya, namun aku masih saja berada diantara nyata dan maya. Kesunyian ini menggerakkan putaran waktu dalam bayangan. Membalikkannya kebelakang. Sebagian ingin menghilang namun masih berkubang.

Ada tanya dan sesal yang bergejolak hebat difikiran.

Hari ini…
Apa yang sudah dilakukan?
Apakah yang dikerjakan hari ini benar-benar berguna?
Kelalaian apa saja yang sengaja dan tak sengaja dilakukan?

Sudah benarkah apa yang dikerjakan?

Adakah perlakuan yang salah?
Apakah ucapan tadi menyakitkan?

Adakah yang marah?

Adakah yang tersakiti?

Bertubi-tubi menjadikan anak panah yang menghujam tepat di satu target.

Semakin larut dalam malam semakin kalut pula dalam fikiran.

Waktu terus berjalan sedang fikiran masih terkungkung dibelakang.

Cepatlah terlelap~

(pada suatu malam yang terlalu pagi)

22052019
@addini

Diposkan pada kiasan, nasehat, writting/blogging

Mengabaikan Bayangan

Pagi yang cerah menjadi berubah. Kamu yang mengakhiri pagi dengan bahagia kini tak lagi sama. Kamu menjadi bukan kamu yang kemarin. Hari demi hari yang kamu jalani menjadi begitu suram sejak sebuah bayangan mengeruhkan segala apa yang ada dalam fikiranmu. Hingga suatu saat kamu berpikir ingin lari darinya, menganggap bahwa pelarianmu mampu merubah segalanya.

Tidak asing lagi bahwa ditempatmu berdiri juga ada bayangan yang berjalan bersamamu, ia hilang ketika segalanya begitu gelap bahkan untuk melihat tanganmu kamu tak mampu.

Dan ia juga hilang ketika segalanya begitu terang dan menyilaukan, bahkan untuk membuka matapun kamu tak sanggup.

Wah! Betapa banyak yang kamu korbankan hanya untuk menghilangkan bayangan yang bahkan sebenarnya bisa kamu abaikan. Sebagaimana kamu mengabaikan bayangan yang berjalan bersamamu.

Ketika bayangan itu hilang, mampukah kamu meyakinkan diri bahwa itulah kebahagiaan? Atau hanya dalam ekspektasimu semata? Sebagaimana hayalan hayalan kekanakkan yang pernah kamu buat hanya demi kesenangan. Peri, pangeran, bidadari, nirmala, sayap, tongkat ajaib, kuda semberani dan segala macam hal yang membumbui hayalan.

Allah tidak menjanjikan langit akan selalu biru, bunga selalu mekar, matahari selalu bersinar, tapi Allah menjanjikan bahwa setiap kesulitan ada kemudahan. Akan ada pelangi setelah riuhnya badai.

Luka yang tak pernah kering? Sadarilah bahwa kamu sendiri yang menggores luka itu hingga menjadikannya menganga, bahkan kamu menggoresnya setiap hari hingga tak ada kesempatan untuk mengering.

Tentang bayangan, abaikanlah perlahan, lalu biarkan ia menjadi hambar dengan sendirinya.

Menit menit yang mengiringi kehidupanmu begitu berharga, akan lebih bijak bila menjadikannya indah hingga dimenit terakhirmu. Di menit kehidupan kamu akan jumpai begitu banyak rasa. Rasa yang menjadikan corak pada lukisan perjalanan. Ada rasa yang kamu suka dan ada rasa yang tidak kamu suka. Suka dan tidak suka itu milik semua orang, bukan kamu saja. Tinggal bagaimana kamu mengelola perasaan yang berkecamuk itu.

Jadikan suka/bahagia sebagai penyemangat, dan duka sebagai penguat.

Tenangkan resah gelisahmu sebab masih ada nikmat yang melimpah.

Betapa meruginya kamu, hanya karena sebuah bayangan, buliran nikmat dari sang kuasa tak sempat kamu sadari.

….

Usap air matamu, kembangkan senyuman, lalu berjalanlah dengan bahagia. Tertawalah maka dunia akan tertawa bersamamu.

Teruntuk muridku yang dilanda rasa kecewa

@addini

Diposkan pada karakter, kiasan

Marah

Smile

Orang yang sedang marah itu bagai kayu yang terbakar, semakin ia marah maka semakin membara ia, seketika orang takut, tak berani mendekat, namun tak selamanya kayu itu dapat membara, ada kalanya ia padam.

Tahu apa yang terjadi setelah itu?

Kayu yang tadinya membara, kini menjadi abu. Rapuh. Tak ada daya. Tak seorang pun yang takut pada abu, semua orang berani mendekatinya, menginjaknya, menepisnya. Yang tersisa hanyalah bekas hitam tempat ia terbakar. Orang yang lalu tak peduli mengapa ia terbakar, yang mereka tahu, bekas hitam itu begitu mengganggu.

Ketika semua telah mereda, kayu merasa hampa, ia sadar bahwa segalanya tak lagi sama.

Memang, amarahnya telah menghabisi dirinya sendiri.

Seberapa pantaskah amarah yang kita lontarkan?

Sebaik-baiknya kesabaran adalah ketika kamu lebih memilih diam, padahal dalam hatimu beribu cacian anak panah siap untuk dihujamkan

Takaran emosi orang mungkin berbeda, kesulitan untuk menahan emosi mungkin juga berbeda.

Semua hanya masalah waktu, apapun yang kita perbuat, waktu akan membuktikan kebenaran sikap kita.

Menahan amarah memang tidak mudah. Tapi ingatlah kebaikan dan balasan yang akan diterima bagi orang yang bersabar selalu lebih indah dan menyenangkan.

@addini

Diposkan pada kiasan, nasehat, writting/blogging

Arti Sebuah Perasaan

Perasaan

Perasaan merupakan ilmu hudhuri yang tidak bisa diungkapkan sebagaimana adanya.

Banyak kita mendengar ungkapan kesedihan seseorang, tapi apa dia memang sesedih sebagaimana yang ia ungkapkan? Hanya dia dan Allah yg tahu. Banyak pula kita mendengar ungkapan kebahagiaan seseorang, tapi apa dia memang sebahagia itu? Hanya dia dan Allah yg tahu.

Perasaan adalah hal yg misterius. Apa yg kita ungkapkan tidak benar-benar sebagaimana apa yg kita rasakan. Ketika kita menyelami lautan perasaan seorang yang terdekat sekalipun, hanya gelap yg terlihat, adapun yang terlihat hanya terkaan belaka. Kita tidak benar-benar tahu sampai kita menjadi pemilik perasaan itu.

Lalu, apa yg diharapkan dari seseorang yg bersedih?

Hiburan?

Nasehat?

Diabaikan saja?

Kita juga tidak tahu persis apa yg diharapkan dari pemilik perasaan. Ketika semampunya kita menghibur pemilik perasaan yg bersedih itu, tidak akan sepenuhnya bisa dirubah. Mungkin ia tertawa terbahak, mungkin ia menangis hingga meraung, tapi ia masih membawa kesedihan bersamanya.

Pemilik perasaan lah yg hanya bisa memahaminya.

Mereka tak bisa berharap apapun dari orang lain sampai ia sendiri yang bisa memulihkan hatinya. @addini

Diposkan pada kiasan, nasehat, writting/blogging

Daun Tak Pernah Membenci Angin Katanya

Saya pernah membaca kiasan terkenal ini. Mungkin pembaca juga. Daun tak pernah membenci angin. Katanya begitu.

Kita tahu bahwa daun pada ranting akan jatuh ditiup angin. Lalu apakah benar daun tidak membenci? Kita tidak pernah tahu pasti, yang kita tahu daun akan mudah jatuh ditiup angin.

Bisa jadi dia jatuh dengan kebencian, bagaimana mungkin dia tidak membenci angin yang telah melepaskannya dari sesuatu yang bisa memberinya kehidupan.

Atau mungkin dia memang tidak membenci angin sama sekali, tapi alasan apa yang membuat sehelai daun tidak membenci angin? Merasa terbantu karena ingin bebas? Yang benar saja, sampai dimana sih kebebasan sehelai daun? Ia tertiup angin sebentar, jatuh ketanah, bisa jadi dibakar, bisa jadi terinjak, bahkan membusuk diperairan, lalu mengapa kita bisa berpikir bahwa daun tidak membenci angin?

Sudahlah, benci ataupun tidak, ia akan jatuh juga. Ia akan membusuk juga. Tidak, dia tidak memberontak sama sekali. Bahkan dari awal dia hanya diam.

Lalu sampai kapan kita tahu apakah daun benar-benar tidak membenci angin?

Kita tidak tahu, benar-benar tidak tahu, sama sekali.

Biarlah sehelai daun kita ekpsektasikan demikian.

Dan biarlah kebisuan daun memberikan kita pelajaran bahwa ketenangan bisa memberikan ekpsektasi sebaik itu. @addini_