Diposkan pada writting/blogging

Covid-19 Sudah Setahun Usianya

Masker
“kita tidak libur, guru mengajar di sekolah, siswa menyimak dari rumah”

Sudah setahun lamanya sejak covid-19 mulai berdatangan. Hanya dimulai dari sebuah kota yang jauh dari negara kita, kemudian hanya sekedip mata mereka bertebaran, menyebar ke negara terdekat hingga akhirnya meraja lela di negara kita. Masih teringat jelas joke para petinggi negara yang mengatakan bahwa rakyat Indonesia aman dari covid-19 sebab selalu mengonsumsi rempah-rempah yang baik untuk imun tubuh. Nyatanya tak lama sejak ucapan itu covid-19 menunjukkan dirinya di negara kita. Membuktikan bahwa tak ada yang tak mungkin baginya. Mungkin petinggi ketika itu hanya ingin menenangkan rakyatnya yang berada dalam zona mencekam, sebab begitu cepatnya mereka menyerang negara, hingga melintasi benua.

Masih terekam jelas bagaimana pertama kalinya virus ini memperkenalkan dirinya. Mereka yang terinfeksi secara mendadak tumbang dijalan, kejang-kejang dan mengeluarkan buih dari mulutnya, orang-orang tak berani mendekat, mereka berkeliling menunggu polisi dan petugas medis datang. Dalam kompilasi video itu diperlihatkan juga orang-orang di tempat lain mengalami hal serupa, tak ada yang berani mendekat. Kami yang menonton hanya bisa terpaku, menatap layar TV, meyakinkan diri bahwa ini bukan film Zombie, ini nyata! Hal ini berlangsung hingga berhari-hari.

Kasus pertama di Indonesia

Kasus pertama yang menghebohkan Indonesia adalah pada awal maret 2020. Di konfirmasi oleh menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto di Istana kepresidenan, Jakarta, Senin (02/03/2020) bahwa ada warga Depok, Jawa Barat, yaitu ibu dan anak yang positif corona setelah mereka kontak dengan warga jepang yang datang ke Indonesia. Dia terdeteksi ketika tiba di Malaysia, mengetahui hal itu Menteri Kesehatan mendeteksi dengan siapa ia berkontak selama di Indonesia, ternyata ibu dan anak dari Depok ini, ketika di tes ternyata benar mereka juga sudah terinfeksi Covid-19

Covid-19 Zaman Now

Sejak kasus pertama itu, virus mulai menyebar dengan cepatnya. Namun kali ini gejala yang ditimbulkan tidak lagi sehoror yang pernah dilihat di TV. Hingga sekarang pun tidak ada satupun pasien yang menunjukkan gejala yang demikian, kebanyakan virus ini mendekam di tubuh manusia dengan tanpa menimbulkan gejala yang “aneh-aneh”

Covid-19 menyerang manusia dengan begitu misterius. Mereka terlihat sehat, beraktivitas sebagaimana biasa. Ada beberapa kasus yang baru-baru ini terjadi, seorang pasien kecelakan, tiba-tiba terdeteksi Covid-19. Ada juga pasien kanker yang meninggal dalam keadaan terinfeksi Covid-19. Ada juga pasien yang meninggal karena tensi tinggi ternyata juga terinfeksi Covid-19. Seolah orang dengan penyakit lebih mudah terinfeksi Covid-19 namun tidak mudah menginfeksi orang didekatnya meskipun mereka juga berkontak langsung. Terlihat bahwa keluarga pasien yang disebutkan tidak terdeteksi virus ini.

Dampak Covid-19

Seolah tak ada habisnya bila menyebutkan semua dampak yang terjadi sejak adanya Covid-19. Pengaruhnya dalam bidang kehidupan sangat besar, mulai dari sosial, ekonomi, pariwisata, pendidikan, lingkungan hingga industri.

Pada awalnya, tiap orang sangat menjaga dirinya, nyaris dibilang ketakutan, beberapa orang tidak berani keluar rumah, panik bila saja ada yang datang. Jalan raya menjadi sepi, hanya beberapa orang yang keluar rumah karena tuntutan pekerjaan atau urusan penting lainnya, dan mereka selalu menggunakan masker.

Seiring banyaknya pasien terinfeksi, pemerintah kota menerapkan aturan “lockdown” di beberapa tempat, dimana warga tidak diperbolehkan keluar kota. Para medis dan polisi siap menghadang perbatasan kota bila saja ada yang melanggar.

Tempat makan dan pariwisata ditutup. Sekolah juga tutup, siswa diwajibkan mengikuti sekolah daring yaitu kegiatan belajar-mengajar dilakukan secara online dari rumah masing-masing. Perusahaan juga menerapkan aturan pengurangan hari kerja.

Setiap kantor, toko-toko dan tempat lainnya menerapkan protokol kesehatan, mereka menyediakan air dan sabun pencuci tangan, memberi jarak pada tempat duduk/ tempat antrian dan menyediakan hand sanitizer untuk mencegah penyebaran virus. Sempat pula ketika itu harga masker dan hand sanitizer begitu mahal sebab begitu banyak pemesanan hingga stok terbatas. Beberapa tempat juga menyediakan alat pengukur suhu. Orang dengan suhu lebih dari atau sama dengan 37 derajat tidak diperbolehkan masuk ketempat itu.

Sempat pula beberapa kantor pelayanan hanya melayani masyarakat di depan kantor. Mereka menyediakan meja diteras kantor sebagai tempat pelayanan publik dan mereka tidak diperbolehkan berlama-lama, urusan berlangsung cepat.

Beberapa perusahaan mulai turun pemasukkannya oleh karena kurangnya konsumen, sehingga dengan berat hari mereka juga harus mengurangi pekerjanya. Perekonomian pun dari hari kehari semakin sulit.

Berita di TV tak henti menayangkan mirisnya kondisi sejak adanya Covid-19.

Beberapa bulan kemudian TV juga menayangkan dampak positif sejak adanya virus ini. Dimana pantai menjadi lebih bersih dan laut menjadi lebih jernih dari biasanya, memperlihatkan terumbu karang dan ikan-ikan yang begitu indah sebab tak ada pengunjung yang datang. Begitu juga udara terasa lebih sehat dan segar sebab berkurangnya polusi udara dari kendaraan. Tempat wisata menjadi lebih bersih dan indah sebab tidak ada lagi pengunjung yang merusak dan mengotorinya.

Bagaimanapun selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil dari setiap peristiwa.

Tak pernah terbayangkan adanya virus ini, dan betapa besar dampaknya dalam kehidupan. Teringat cerita orang tua dulu mengenai cacar, dimana pada masa itu begitu banyak orang meninggal hanya karena cacar. Kesal dan juga sedih, sebab zaman sekarang dengan mudahnya pasien penyakit cacar sembuh dengan obat yang tidak begitu mahal dan mudah didapatkan.

Bisa jadi suatu saat kita juga akan merasakan ini, disaat kita sudah menemukan obat yang tepat untuk penyembuhan pasien virus Covid-19.

Semoga masa itu tak lama lagi.

Covid-19 Mengukir Sejarah

Keadaan belakangan ini sudah tak sepanik dulu. Tidak ada lagi “lockdown” yang separah dulu, tempat wisata sudah mulai dibuka kembali, meski masih banyak yang menerapkan penggunaan masker namun ada saja beberapa orang berkeliaran tanpa menggunakan masker. Tak ada lagi polisi yang berkeliaran menangkap orang dijalan tanpa menggunakan masker. Orang-orang seolah sudah tidak ketakutan seperti dulu.

Disamping itu sudah ada dana bantuan yang diberikan oleh pemerintah bagi yang membutuhkan, ada berupa uang, ada pula berupa barang/sembako.

Meski menjadi kontroversi pada awalnya, pemerintah sudah menetapkan 70-80% masyarakat yang telah ditentukan akan diberi vaksin Sinovac dari China demi pencegahan virus Covid-19 ini.

Semoga kesuksesan terbesar dalam dunia medis seperti yang dicapai oleh ilmuwan Edward Jenner dalam menemukan vaksin cacar terulang kembali tak lama lagi.

@addinimaulidaistia

Diposkan pada writting/blogging

Beranjak Dewasa

Anak-anak
Anak-anak
Remaja beranjak dewasa
Remaja beranjak dewasa

Masa dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai kira-kira 40 tahun. Saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif (Hurlock, 1996)

Hidup kita dimulai dari suatu bentuk yang disebut janin, ketika lahir kita menjadi bayi lalu sebentar kemudian kita menjadi anak-anak, menjadi remaja kemudian dewasa, dan terakhir menjadi tua. Ketika disebutkan ini, waktu yang kita lewati terasa sangat sebentar padahal tidak, nyatanya kita melupakan beberapa momen kecil dalam kehidupan kita, menyisakan hanya sedikit saja dalam ingatan, dan saat kita melihat kebelakang, hanya sedikit momen yag terlihat menjadikan waktu yang dijalani terasa begitu cepat.

Sejak mulai janin kita mengalami perubahan disetiap waktu, ada yang bisa terlihat ada juga yang tidak, ada yang disadari ada juga yang tidak.

Beranjak dewasa menjadikan kita mulai membatasi diri dari beberapa hal yang biasa kita lakukan ketika fase sebelumnya. Membatasi diri ini berjalan begitu saja tanpa kita sadari sejak kapan dimulainya. Misalnya ketika kita dulu biasa saja makan es krim dengan sangat berantakkan sampai-sampai meleleh ditangan, belepotan ke muka dan mengotori baju, hal ini menjadi berubah ketika beranjak dewasa, kita sudah mulai merasa risih dan malu ketika makan dengan berantakkan seperti itu. Sejak kapan dimulainya? Jarang kita bisa menyadarinya.

Banyak hal tanpa kita sadari berubah dari diri kita, dan tidak tahu kapan dimulainya.

Sebelum fase dewasa kita merasa biasa saja berkejaran sambil cekikikan meski ditengah orang ramai, tertawa keras dan bicara apa adanya. Bahkan hal-hal ekstrim seperti memanjat pohon dan apapun, bergelantungan dipohon dan dimanapun, berlarian menangkap binatang, berlarian mengejar apapun meski tak dikejar, tidak malu mengatakan apapun pada siapapun, ingin ke bulan, ingin menjadi astronot, ingin menjadi pahlawan super, ingin menjadi artis terkenal, ingin menjadi orang paling cantik di dunia, ingin menjadi putri raja, ingin menjadi peri, ingin menjadi putri duyung, ingin menjadi penyihir, ingin menjadi apapun, lalu menceritakan kepada teman-teman dan siapapun.

Beranjak dewasa, kita akan semakin menghindari banyak hal. Kita mulai menghindari diri dari keinginan yang mustahil. Menghindari diri dari sesuatu yang dulunya biasa ‘anehnya’ menjadi hal yang memalukan. Menghindari diri dari perkataan yang mampu menjerumuskan.

Beranjak dewasa menjadikan kita bisa menilai hal-hal yang dulu luput dari perhatian kita. Lingkungan kita juga beranjak dewasa seiring berjalannya waktu, dimana kita menjadi mampu menilai mana yang pantas, mana yang tidak sehingga kita menjadi semakin menghindari beberapa hal pada fase sebelum beranjak dewasa.

Perubahan ini memang tidak serta merta terjadinya. Tidak berubah dalam sehari, tidak secepat membalikkan telapak tangan. Ia berubah secara perlahan sehingga kita jarang bisa tahu kapan tepatnya itu dimulai. Seperti yang telah diterangkan oleh Hurlock diatas, usia dewasa dimulai sejak usia 18 tahun. Namun kedewasan tidak serta merta terjadi diusia itu, ia berjalan perlahan, semakin hari semakin terlihat kedewasaannya seiring timbulnya keinginan untuk menghindar.

Semakin beranjak dewasa, semakin banyak hal yang dihindari, namun juga semakin banyak hal baru yang ditemukan🦋

@addinimaulidaistia

Diposkan pada writting/blogging

Sakit Hati itu Tidak Selalu Buruk

Rasa sakit hati membuatmu ingin menghindar namun terkadang tidak bisa. Ia tetap ada bahkan terkadang bertahan lama.

Rasa sakit itu akan tetap datang dalam bentuk yang berbeda.

Bila saja kamu terus lari sampai kapan kamu bisa bertahan?

Tidak seperti membaca novel, ketika terasa memuakkan kamu bisa langsung menutupnya.

Rasa sakit hati tidak selalu buruk, kita tidak tahu rasa sakit hati mana yang akan mendewasakan kita.

Addini

Diposkan pada writting/blogging

Tahun yang Baru

Hujan
Hujan di akhir tahun

Tahun sudah berganti, digit demi digit menjadikannya angka yang semakin besar.

Sementara itu orang-orang tampak semakin menunjukkan pesonanya. Mereka berlomba ingin terlihat. Menyatakan pada dunia bahwa mereka siap menghadapi apapun.

Sedangkan kamu hanya mampu menyaksikan segala pancaran pesona mereka. Menatap kagum. Menghabiskan waktu demi menghitung poin keunggulan mereka yang anehnya semakin bertambah tiap kamu melihatnya.

Waktu terus bergerak, mereka pun bergerak. Lalu mengapa hanya kamu yang diam?

Sampai kamu sadar waktu takkan biarkan dirinya istirahat. Sampai kamu sadar bahwa waktu takkan menunggumu menyelesaikan semuanya. Kamu sadar bahwa waktu hanya terus berjalan menyelesaikan kewajibannya. Sebenarnya kamu sadar.

Semua terlihat bergerak cepat disekelilingmu dan kamu masih disini.

Sampai kapan.

11 januari 2021

Addini

Diposkan pada kiasan, nasehat, writting/blogging

Perbedaan Di dunia Bukan Untuk Menjatuhkan

Pernah lihat monitor detak jantung ICU di rumah sakit? Bagi yang belum pernah melihat langsung dirumah sakit mungkin pernah melihat ditempat lain. Monitor ini ditunjukkan berupa grafik naik-turun pertanda pasien masih hidup.

Begitulah kehidupan, kadang ada masanya naik kadang juga turun, entah itu rezekinya, semangatnya, kebahagiaannya. Masa turun adalah masa yang siapapun tentu tidak menyukainya. Jika boleh memilih tentu kita ingin selalu berada di masa naik. Iya, kita semua sama.

Seperti monitor detak jantung tadi, grafik itu tidak mungkin naik terus tentu ada turunnya dan turunnya juga tidak terus turun akan ada naiknya.

Setiap orang memang memiliki masalah hidup yang harus dihadapin dan itu pun berbeda kondisinya dan beda takarannya. Namun tidak ada perbandingan diantaranya karena Allah swt sudah memperhitungkan seberapa sanggup kita bertahan. Semakin sulit masalahnya semakin banyak pula pahalanya bila kita bersabar. Adilkan? Asal jangan cari masalah, misalnya kamu mencuri lalu digebukkin masa sangat parah lalu kamu bersabar, itu sabar yang telat ya, kenapa sabarnya gak pas sebelum mencuri, menyabarkan diri, menahan diri untuk tidak mengambil hak orang lain.

Coba kita fikirkan lagi, kesulitan itu datang apa penyebabnya, jangan dulu menyalahkan faktor luar, coba ukur dari dalam dulu. Mungkin kita kurang berusaha, mungkin kita kurang yakin, mungkin juga kita kurang bersyukur.

Kebahagiaan itu datangnya dari dalam, ada orang mudah keluar negeri namun masih bersedih hati, ada orang sudah memiliki harta melimpah tapi masih kesepian dan mencari hal lain untuk kebahagiaannya, meski berujung salah, ada juga yang kita kira dikelilingi kebahagiaan namun ternyata menyimpan luka dan duka. Kita tidak tahu apa yang terjadi pada mereka. Balik lagi ke diri kita sendiri. Mengapa kita harus membandingkan diri dengan orang lain bila kita tahu itu hanya akan menyakiti diri sendiri. Kenali diri sendiri dan mulailah menerima apa yang tidak bisa kita pungkiri.

Perbedaan diatas dunia ini bukan untuk menjatuhkan kita, bukan untuk memberikan masalah buat kita, namun ‘malah’ memberikan pelajaran bagi kita. Banyak orang bertubuh tinggi nampak mempesona dan banyak orang bertubuh rendah nampak berkharisma. Banyak orang bermata kecil terlihat manis dan banyak orang bermata besar terlihat indah.

Seperti bunga, ia bermekaran dengan keindahannya masing-masing.

Alangkah baiknya bila kita menunjukkan diri kita senyaman mungkin tanpa harus menyama-nyamakan diri dengan orang lain

Addini
Diposkan pada writting/blogging

Hidup Adalah Perjalanan

Perjalanan

Hidup itu seperti sebuah perjalanan, menemukan dan menempati

Addini

Kehilangan yang begitu menyedihkan adalah kehilangan diri sendiri.

Kehilangan diri sendiri itu ibarat kamu berjalan namun tidak tahu tempat seperti apa yang sebenarnya yang kamu inginkan dan tempat apa yang akan dituju. Alih-alih menetapkan tempat, kamu asik mengikuti alur waktu, menarikmu kesana kemari, sekalipun ketika kamu menginginkan satu tempat dan mereka katakan bahwa itu terlalu berkilau, terlalu indah, terlalu jauh dan mereka katakan bahwa itu bukanlah tempatmu, dengan segera kamu lepaskan dan tinggalkan begitu saja dan melanjutkan perjalanan.

Kamu terus berjalan tanpa tahu akan kemana, menyusuri jalan sambil asik menikmati sekitarmu, lalu tiba-tiba tersadar bahwa kamu sudah berjalan terlalu jauh. Kamu ingin berjalan kembali kebelakang namun kamu kehilangan jejak, tidak tahu dari mana kamu memulai, lalu angin bertiup memberi arah padamu dan kamu mulai mengikutinya. Angin itu membisikkan arah dan kamu mengikuti arahan sambil terus menikmati perjalanan sekalipun kamu melewati taman yang indah, pohon rindang yang menenangkan, dan danau yang begitu segar, sebab angin tidak membiarkanmu untuk singgah. Perjalananmu terus berlanjut sambil meyakinkan diri bahwa angin akan membawamu ke tempat yang lebih bagus. Hingga kamu tersadar kembali bahwa kamu sudah semakin jauh, semakin lelah dan tidak tahu akan singgah dimana.

Tempat yang kamu lewati menjadi semakin suram, dingin dan temaram, hingga nampak jauh kedepan sana. Seketika kamu merasa kecemasan yang begitu dalam, tenggelam dalam ketakutan, dan terlalu gamang untuk melangkah kedepan hingga akhirnya kamu hanya berputar-putar di tempat, namun begitu, angin terus saja membisikkan sesuatu padamu, mengatakan bahwa kamu salah jalan. Kamu tersesat.

Terkadang dalam hidup kamu mesti berjalan dengan langkahmu sendiri, menggunakan earphonemu. Mendengarkan lagu-lagu indah dari playlistmu sendiri, mendengarkan apa yang ingin kamu dengar, mengarahkan langkahmu ketempat yang kamu inginkan dan ketika lelah kamu berhenti sejenak menikmati betapa indahnya perjalanan ini lalu berjalan kembali ketika kamu siap. Mengarahkan langkah mengikuti petunjuk peta hati yang terbentang dengan jelas. Berhenti kembali ketika kamu lelah, menikmati terpaan lembut angin dibawah pohon rindang meneduhkan, membiarkan diri untuk tidur sejenak melepas penat. Lalu berjalan kembali ketika penatmu hilang.

Perjalanan masih panjang, jauh didepan sana adalah tempat yang sangat indah, begitu indah, nampak berkilauan meski letaknya begitu jauh kedepan. Itu adalah tempat yang kamu impikan. Semakin kamu melangkah ia menjadi terasa dekat.

Sesekali angin terasa keras menampar bahkan earphonemu menjadi gelisah namun juga terkadang lembut membelai menambah begitu emotional nya perjalanan ini. Tempat berkilau itu semakin mendekat namun masih jauh, sementara itu kakimu mulai protes jika kamu masih melanjutkan perjalanan lalu kamu putuskan untuk berhenti sejenak melihat kesekeliling, dan menemukan bahwa tak jauh dari sini ada sungai berkilauan menggodamu untuk mampir, kesegaran airnya melepas penat dimatamu, menjernihkaan pandangan dan menjadikan tempat berkilauan disana semakin berkilau, memberimu semangat yang baru.

Earphone ini pun perlu istirahat, melepasnya dan menyimpannya rapi di earphone case. Seketika kamu melepas earphone, dengarlah, dengan segera alam menunjukkan kemahirannya, suara alam begitu menenangkan, aliran air, kicauan burung, nyanyian rimba, siulan angin, gemerisik dedauanan dan ilalang. Semua seolah dihadirkan buatmu, memang benar alam begitu menyenangkan.

Setelah penatmu hilang, kamu memulai perjalanan kembali. Kilauan tempat indah itu semakin menarikmu mendekat. Angin seolah ramah membisikkan arah yang harus kamu tuju, ke arah lain. Bukan. Angin ini hanya menggodamu. Kamu kembali berjalan ke arah tujuan pertamamu, dengan ditemani bisikkan angin. Asiknya kamu berbincang dengan angin itu, ia membisikkan arah, dan kamu membisikkan pula tempat yang ingin kamu tuju, yaitu tempat berkilauan pertama yang sudah kamu lihat sejak jauh dibelakang. Seolah tak ada alasan bagimu untuk menukar tempat semenarik itu. Sekalipun terlihat tempat berkilauan lainnya. Kamu mantap melangkah kedepan. Angin yang terus mengajak berbincang ini akhirnya membuatmu lelah, namun setidaknya ia tak membuatmu merasa sendiri.

Hingga akhirnya kamu bediri terkagum-kagum dihadapan keindahan tempat yang sejak dari jauh sana sudah kamu impikan. Seolah meruntuhkan rasa lelah perjalanan yang jauh ini. Disinilah kamu sekarang, di tempat impianmu. Sementara kamu terpesona angin lain mulai membisikkan sesuatu mengubah suasana, tapi tak lama, earphone sudah kembali menghentikannya, playlistmu kembali berputar indah dan kamu menikmati keindahan ini.

Dirimu menentukan bagaimana kamu kedepannya.

Diposkan pada Dongeng, writting/blogging

Penyesalan Solo Si Kura-kura

Pemandangan hijau terbentang seluas mata memandang, diberbagai penjuru terdapat pepohonan tinggi berdiri anggun diatas tanah yang lembab, akar lunaknya bergelantungan dan terayun lembut ketika kera dan binatang lain menghinggapinya. Kicauan burung seolah tak berhenti bersahutan hingga begitu jauh. Suara dari aliran air yang menyusup dicelah bebatuan menambah tentram suasana pagi ini.

Seekor kura-kura sedang menikmati betapa indah alam habitatnya. Ia sudah disitu sejak matahari belum naik. Ketika alam masih menyembunyikan keindahannya. Merasakan peralihan pagi yang dingin, hingga seketika menjadi hangat oleh matahari yang perlahan menampakkan dirinya.

Seekor temannya datang. Ia memilih untuk ikut sejenak menikmati suasana yang syahdu ini, tak ingin mengusik ketenangan temannya, sesekali ia pun tersenyum senang melihat dia yang tampak begitu bahagia pagi ini.
“Sejak kapan ada disini?” Akhirnya ia tersadar juga dari lamunan panjangnya,
“Sudah sejak tadi” Jawab Igu si iguana.
“Igu mengapa kemari? Mana si Era dan Rangkong?”
Tidak boleh ya aku kemari? Aku cuma ingin jalan-jalan saja, bosan dirumah sendiri, yang lain pergi mencari makanan sedangkan aku tidak boleh ikut” jawab Igu kesal.
“Oh begitu” Solo si kura-kura perlahan turun dari batu besar itu. Wajahnya tampak bingung.
“Ada apa solo? Apa kamu sibuk hari ini? Tadi, sebelum kesini aku juga ketempat Era dan Rangkong tapi tumben sekali mereka tidak ada dirumah, mengapa semua orang jadi begitu sibuk hari ini, hmm mengapa aku tidak?” Igu kesal sendiri dengan dirinya
“Bukan.. Bukan begitu.. Aku sedang tidak sibuk”
“Oh benarkah? Tapi mengapa kamu seperti memikirkan sesuatu? Kamu ada masalah?” Igu yang cerewet ini terus saja mendesak, sementara yang didesak selalu mengalihkan pandangannya
“Aku tidak kenapa-kenapa”
Lengkingan kicauan burung terus saja bersahutan, binatang pohon bergelayutan manja di akar lunak, menggugurkan dedaunan kering di atas sana, menari nari diudara lalu jatuh diatas dua sekawan yang sedang berjalan pelan.

Igu terus saja bercerita panjang lebar sementara Solo hanya banyak diam, Igu merasa aneh karena Solo yang ia kenal tidak seperti ini. Biasanya ketika berkumpul dia selalu ceria menanggapi segala macam ucapan temannya. Kali ini tidak. Tapi dia sedang tidak ada teman.

Perjalanan berakhir, dua sekawan itu pun pulang kerumah masing-masing. Tapi Igu masih merasa tidak enak hati, ada hal yang tidak berani untuk ia tanyakan. Apakah Solo membencinya? Mengapa begitu berubah ketika ia hanya datang sendirian? Apakah karena kado ulang tahunnya kemarin? Ya, apa karena kado itu? Igu terlalu terkejut dengan pikirannya sendiri. Apa dia tidak suka? Seharusnya ia mendengarkan kata Era si kera untuk mencari kado yang lain. Tapi ia hanya ingin menjadikan ini spesial karena dibuat oleh nya sendiri. Seandainya waktu bisa diulang, tentu ia ingin mencari kado yang lain saja. Lalu apa yang harus dilakukan, semua sudah terjadi. Solo sudah terlanjur tidak menyukainya. Ah, apa terlalu malu untuk menanyakan kado itu?

Seekor kura-kura berjalan pelan diantara dedaunan kering. Berjalan seperti tanpa arah. Wajah damai pagi ini telah lenyap terbawa oleh entah apa. Perasaan bersalah mulai melingkupinya. Ia menyesali langkah kakinya pagi ini. Ia menyesali ucapannya hari ini. Ia bahkan menyesali raut wajahnya hari ini. Ia begitu menyesali ucapan yang masih tertahan kuat dihatinya. Pikirannya begitu berkecamuk. Harusnya tadi begini, harusnya tadi begitu, berulang kali ia merutuki diri. Sepagi ini, ia merasa sakit oleh canggung yang menggerogoti dirinya. Ia begitu canggung dengan igu yang bahkan adalah temannya. Ketakutan yang selalu berhasil ia hindari mendadak kembali tanpa permisi. Ia merasa malang sekali, dirundung penyesalan namun hanya bisa mendekam dalam rumah yang terasa begitu sesak kali ini. Mendadak ia merasa takut akan dunia luar bahkan juga merasa takut dengan dirinya sendiri.

Matahari perlahan bersembunyi di balik bumi, bayangan pepohonan bergerak lembut lalu menghilang. Di tempat berbeda, dua ekor binatang masih saja sibuk dengan pikirannya, mendekam dalam kecemasan.

Seekor semut, mengintip ke dalam cangkang Solo yang sedang bersedih hati. Antenanya bergerak-gerak lincah, sebentar saja ia sudah turun. Solo mengintip keluar, ia terkejut, ternyata semut yang biasanya selalu berjalan beriringan bersama kelompoknya sekarang sedang sendirian, berjalan linglung kesana-kemari. Kasihan sekali, tentu ia merasa kesepian, sementara kelompoknya entah berada dimana.

“Ka..kamu kehilangan kelompok?” Akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya
“Tidak” ucapnya masih saja dengan antena bergerak tak terarah.
“Aku sedang mencari makanan, ratu sedang butuh makanan” Lanjutnya. Kasihan sekali semut ini, pikir Solo, ia bekerja keras demi ratunya, sementara itu ratu yang selalu diberi pertolongan belum tentu mengingatnya, sebab mereka persis sama, dan begitu banyak.
“Apa..apaa.. ratu bisa mengenalmu? Ka..kamu terlihat sama dengan yang lain, apa rasanya?” Semut itu berhenti bergerak, antenanya pun berhenti bergerak. Semut itu menatap dalam ke dalam matanya, Solo menjadi canggung seketika, ia tidak tahu harus bagaimana dengan situasi ini.
“Ratu tidak harus mengenalku, karena aku sudah terlalu bahagia melihatnya aman, dan sehat. Kami mirip katamu? Ahh itu hanya dari sudut pandangmu saja, jika kamu mengenal kami sebagai semut, bagi kami itu sudah cukup, tapi aku tidak terlalu peduli, tiap kami cukup menjadi diri kami masing-masing. Kami saling mengenal satu sama lain karena kami berbeda, sehingga kami tetap dalam kelompok”
Semut itu berhenti menatapnya, antenanya kembali bergerak gelisah, berjalan kesana kemari, dan meninggalkannya yang terpukul sendiri oleh kata-kata makhluk sekecil itu.

Selama hidupnya, ia sibuk memikirkan bagaimana ia terlihat, menyesuaikan dengan bagaimana yang makhluk lain inginkan, berusaha menyamakan diri dengan yang lainnya. Ia selalu merasa jatuh, merasa gagal tiap bertemu perbedaan. Sehingga ia berusaha mengejar ketertinggalan yang ia rasakan, selalu berubah agar tidak merasa gagal, agar ia bangkit kembali. Namun, itu tidak pernah berhasil. Tidak pernah. Ia gagal menjadi yang lain, sekaligus gagal menjadi diri sendiri. Ia merasa tidak nyaman ketika yang lain menjadi mengenalnya lebih dalam, sebab akan mengetahui bahwa ia berbeda. Ia merasa tidak akan diterima oleh siapapun.

Oleh makhluk kecil itu, Solo tersadar, ternyata ia menyusahkan dirinya selama ini, bahkan mengusahakan kegagalan setiap waktu.

Solo berusaha menerima dirinya, menjadi diri sendiri seharusnya tidak pernah akan gagal.

Dikejauhan tampak semut bejalan beriringan, salah satunya adalah semut yang berbincang dengan Solo. Mereka mengangkut makanan yang sangat banyak dengan gembira.


Ditulis pada 20 April 2020

Oleh Addini

Diposkan pada writting/blogging

“Kelas Offline Saja Buk”

“kelas online tidak seindah kelas offline” chat seorang murid.

Saya ingat beberapa waktu lalu beberapa murid mengeluh melalui chattingan grup whatsapp, mereka bingung dengan adanya kelas online. Mereka mengeluhkan bahwa kegiatan dikelas saja mereka susah memahami apa lagi secara online seperti yang dilakukan sekarang.

Sudah hampir sebulan lama nya murid dikarantina dari penyakit covid-19. Agar murid tidak ketinggalan pelajaran guru mengambil kebijakan untuk memberikan materi secara jarak jauh yaitu secara online. Guru memberikan materi dengan caranya masing-masing, ada berupa power point, gambar, video, dan audio. Pemberian tugasnya juga bervariasi, ada pemberian kuis secara online, ada yang diketik, dan ada juga dengan cara tertulis di buku yang kemudian difotokan.

Mengadakan kelas online tentunya murid membutuhkan handphone android serta fitur yang mendukung kegiatan online ini. Sangat disayangkan sekali bahwa tidak semua murid yang memiliki handphone android. Bukan karena tidak mau membeli namun belum sanggup. Guru memperbolehkan untuk meminjam handphone android keluarganya untuk mengikuti kelas online, namun itu tidak mudah, sehingga mereka memilih untuk tidak mengikuti kelas online.

Murid yang memiliki handphone android itu tidak banyak, bahkan tidak sampai separuh dari jumlah murid dikelas sehingga pemerataan materi pelajaran terasa sulit. Terkadang mereka tidak bisa online karena kehabisan paket. Beberapa diantaranya, tidak bisa mengikuti pembelajaran dikarenakan penyimpanan pada handphone nya tidak mendukung. Sementara itu, dari sekian murid yang memiliki android dan memiliki fitur yang memadai, hanya beberapa diantaranya saja yang terlibat didalam kelas online. Sehingga pemberian materi kelas online tidak menjangkau ke seluruh murid di kelas.

Jika kondisi begini guru menjadi bimbang, jika saja hanya beberapa murid yang benar-benar mengikuti kelas online maka apakah ini masih efektif dilanjutkan?

Jika nanti kondisi kembali normal, apakah materi yang sudah dijelaskan di dalam kelas online kembali dijelaskan di kelas nyata? Wah, bakalan ngebut sekali itu pemberian materinya ya, mengingat penilaian akhir sebentar lagi. Kasihan murid-murid. Guru tentunya harus lebih banyak persiapannya nih, supaya materi tersampaikan secara cepat dan tepat.

Tidak hanya murid, gurupun merasa kesulitan dengan adanya kelas online.

Semoga kondisi ini cepat membaik seperti sedia kala, agar kita semua bisa menjalankan aktivitas seperti biasa.

@addini

Diposkan pada writting/blogging

Karantina itu bisa ngapain aja?

Kegiatankarantina
Kegiatan Karantina

Menurut wikipedia, karantina merupakan sistem yang mencegah perpindahan orang dan barang selama periode waktu tertentu untuk mencegah penularan penyakit. Karantina berakhir apabila diagnosis pasti sudah diperoleh.

Mewabahnya covid-19, mengakibatkan masyarakat harus dikarantina. Sebenarnya karantina ini merepotkan atau tidak sih? Lebih banyak untungnya atau rugi?

Merepotkan atau tidak, menguntungkan atau tidak, ini tergantung dari sisi mana kita melihat. Merepotkan tentu iya, bagi guru misalnya, diharuskan untuk tetap memberi materi selama karantina, yang harusnya bisa dijelaskan face to face, sekarang mesti memutar otak untuk mencari cara memberikan materi dan evaluasi secara online, bagi orang tua misalnya, mereka jadi repot untuk mencari cara supaya anak-anaknya tidak keluar rumah, bikin kita gak kerepotan tentu iya juga, kita tidak perlu menyiapkan segala hal pagi-pagi untuk kemudian berangkat kerja, kerja online bisa ditunda, dan bisa sambilan ngerjain yang lain, sambil nyantai juga bisa. Kalau untuk rugi, tentu ada juga, kerja online bisa jadi tidak seefektif kerja face to face. Karantina menjadikan status rencana kita pending, malah mungkin mencoret beberapa rencana yang udah dirancang sedemikian rupa. Keuntungannya pun juga ada, kita jadi bisa berkumpul seharian dengan keluarga, bisa mengerjakan hobi atau rencana yang mungkin sudah lamaaa sekali tidak dikerjakan.

Namun yang jelas, karantina ini baik bagi siapapun, terlepas dari seberapa rugi atau seberapa merepotkannya kita. Dengan karantina kita bisa memutus rantai penyebaran.

Berlama-lama dikarantina begini rasanya menjadikan tubuh lelah, penat yang padahal gak melakukan kerja berat. Makin hari rasanya tulang semakin lunak saja. Tapi ada hal-hal kecil yang menjadikan karantina ini menjadi menyenangkan.

Menurut penelitian, rasa cemas berlebihan akan menurunkan sistem imun tubuh. Jadi daripada jenuh dan stress berkepanjangan lebih baik kita gunakan waktu karantina kita dengan hal-hal yang menyenangkan saja supaya fikiran kita tetap dalam kondisi tenang, tapi bukan berarti kita cuek dengan kondisi saat ini ya, bagaimana pun rasa waspada diri mesti ada.

Oleh karena kekurang kerjaan tadi, pikiran jadi termotivasi untuk mencari kegiatan apa yang ingin dilakukan, supaya ada juga kerjaannya.

Badan jadi manja untuk terus bermalas-malasan, tulang berasa lunak, jadi kepikiran kan kalau saya itu mesti olahraga, akhirnya jadi pengen olahraga kan, paling tidak ya melakukan pemanasan dengan bekal gerakan senam yang diingat saja, lari ditempat, atau jumping rope (yang sebelumnya menggantung aja didinding rumah).

Kelas online sudah selesai, bolak balik kebelakang, kira-kira mau ngapain lagi? Ternyata ada potongan daun bawang, daun seledri dan wortel yang mulai bertunas di dapur. Akhirnya terpakai juga nih pot-pot kecil yang udah luntur warna aslinya, udah ada mungkin agak 2 tahun dirumah. Kemudian diisilah tanah dibantu adik, jadi ada kerjaan juga kan si adik di rumah.

Sampai dikamar ada buku kosong, jadi pengen coret-coret. Menggambar merupakan salah satu hobi yang udah lama gak dikerjakan, dengan karantina jadi bisa tersalurkan lagi. Gak mahir, cuma namanya hobi, apapun hasilnya, jadi ada rasa lega dan bahagia menyelesaikannya.

Pandangan mata ketika melihat rumah bisa detile begini, sampai terpikir wah… ternyata ada yang mesti dibereskan, padahal hari-hari gak kelihatan, perasaan waktu itu semuanya tampak baik-baik saja.

Buka-buka laptop jadi terpikir untuk melanjutkan tulisan yang kebanyakan dipending mengerjakannya.

Jadi nyari buku-buku yang kemarin belum selesai dibaca.

Banyak hal-hal kecil yang kemarin tidak terpikir atau malas dikerjakan sekarang malah dicari-cari dan jadi pengen dikerjain lagi.

Sementara kita baik-baik saja di rumah, di tempat lain sangat disayangkan, seperti yang kita lihat di media elektronik, beberapa oknum yang entah kenapa jadi hobi menyebarkan berita bohong, jadi saling bermusuhan, saling menuduh kesalahan siapa, saling menyalahkan, tentang karantina, tentang lockdown, tentang para medis, sementara dia sendiri tidak punya andil bagi negara atau masyarakat di sekitarnya. Sabaaar jangan terpancing. Mending ambil jumping rope lagi 👍

Sedih gak tuh, lihat caption yang disampaikan oleh para tenaga medis, polisi atau pihak lain, yang dengan kondisi begini masih wajib bekerja demi negara. Mereka mengharapkan kita untuk #dirumahaja #stayhome #staysafe dan biar mereka saja yang bekerja untuk kita. Yuk doakan juga kebaikan untuk mereka.

Sekarang kita atur diri sendiri, membantu sebisa kita dengan membangun disiplin untuk melawan virus corona.

Dunia memang sedang tidak baik, namun kamu harus tetap baik dengan dirimu sendiri dan juga bagi orang lain.

@addini

Diposkan pada writting/blogging

Virus Corona, Virus yang Mendunia

Dunia sekarang sedang heboh mengenai virus baru yang disebut virus corona atau covid-19. Menjadi begitu heboh sebab munculnya begitu mendadak dan mewabah hingga kelas dunia. Virus ini belum dikenali sebelumnya oleh manusia sehingga obat nya pun belum ditemukan.

Virus corona menyebar melalui droples atau cairan yang berasal dari tubuh manusia, melalui batuk atau bersin. Melalui bersin atau batuk dari orang yang terjangkit virus ini juga bisa hinggap ke benda-benda disekitarnya. Sehingga untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, sebaiknya menjaga jarak terhadap orang lain kira-kira 1-2 meter serta menjaga diri dalam menyentuh benda-benda disekitar. Sebab kita tidak tahu siapa diantara mereka yang terjangkit.

Virus ini menyerang saluran pernafasan manusia. Gejala yang bisa ditemukan secara awam adalah berupa pilek, batuk, demam, sakit tenggorokan dan lebih parah lagi pneumonia. Penyakit ini pertama kali terjangkit di Wuhan, China. Lalu menyebar ke negara lainnya dengan sangat pesat. Dokter spesialis Erlina Burhan dari Pokja Infeksi Pengurus Pusat PDPI juga mengatakan, kasus pneumonia berat ini dimulai dari sebuah pasar ikan yang juga menjual unggas di Wuhan, Tiongkok.

Pesatnya virus corona di Wuhan, pada tanggal 2 Februari 2020 pemerintah mengambil langkah cepat untuk memulangkan kurang lebih 250 orang WNI yang ada di Wuhan, China. Namun tidak langsung ke kota asal, mereka harus dahulu dievakuasi ke Natuna, Kepulauan Riau untuk dikarantina di tempat yang sudah di tetapkan. Disana mereka diperiksa kesehatannya dan juga di semprot cairan disinfektan untuk membunuh jika saja virus itu hinggap di mereka. Pada pemeriksaan itu tidak ada satu WNI pun terdeteksi. Beberapa warga setempat sebenarnya kurang menyambut baik kebijakan ini, sebab mereka juga takut terjangkit. Hal ini pun memberi kesedihan bagi WNI yang dievakuasi sebab mereka merasa bahwa mereka juga warga Indonesia yang tidak menginginkan siapapun terjangkit. Tentu kebijakkan ini sudah dipertimbangkan matang-matang oleh pemerintah sebelumnya.

Banyak kabar simpang siur terkait awal mula kemunculan virus corona. Di media sosial tersebar kondisi kepanikan warga, mulai dari memborong makanan untuk persiapan jika saja tidak bisa keluar rumah, namun kemudian di konfirmasi bahwa itu hanya hoax. Namun yang pasti harga barang menjadi selangit, mulai dari masker, hand sanitizer, bahkan sembako. Penumpukan masker, hand santizer dan lainnya. Foto penampakan virus corona mirip serangga yang menyeramkan juga beredar hingga menimpulkan keresahan, namun ternyata juga hoax. Segala hal yang terkait virus corona pun tersebar di media sosial menimbulkan kepanikan, entah itu fakta atau pun hoax. Di lingkungan saya saja misalnya, virus corona ketika itu belum masuk ke Indonesia, nyaris panik hingga akhirnya ada salah satu yang memberi info bahwa virus corona disebabkan oleh orang Wuhan yang memakan daging mentah, binatang yang tak lazim hingga memakan janin yang notabene bukan lah makanan yang biasa kami makan, kami pun merasa aman, dan dilanjutkan pula oleh ucapan menteri kesehatan yang menyatakan bahwa
Apakah mungkin karena kita sering minum jamu? Atau mungkin karena kita sudah kebal dari dulu karena sudah sering kena batuk pilek, jadi begitu ada virus dikit saja virusnya mental,” kata Doni dalam acara Seminar Nasional bertajuk ‘Penerapan Inovasi Teknologi dan Pendekatan Ekosistem dalam Penganggulangan Bencana Berbasis Kearifan Lokal’ di Graha BNPB, Jakarta, Senin (24/2/2020). Dengan berbagai cara pemerintah tampak berusaha menenangkan warga. Walau terkadang tampak dibuat-buat, virus merupakan penyakit mewabah dan hal buruk apapun bisa terjadi. Bagaimanapun negara kita masih negara berkembang, dimana fasilitas tenaga dan alat untuk mendeteksi serta perawatan masih belum secanggih di negara maju seperti di China.

Pada akhirnya Indonesia tak bisa bertahan, pada tanggal 2 maret 2020 diinfokan oleh presiden RI Joko Widodo, bahwa ada 2 warga terjangkit virus corona setelah bertemu dengan warga Jepang. Tidak perlu waktu lama, virus itu menyebar dengan sangat cepat hingga hari ini 18 Maret 2020 sudah ada 227 orang positif terjangkit, 19 orang diantaranya meninggal. Hingga sangat disayangkan dalam waktu yang sangat sebentar Indonesia menduduki peringkat ke-2 kematian akibat virus ini, bahkan mengalahkan negara asal virus ini menyebar.

Fachri Muchtar merupakan salah satu akun twitter dari pasien suspect covid-19, ia mencurahkan isi hatinya dalam bentuk thread twitter,
Gua resah dengan kondisi saat ini, gua pengen speak up sebagai pasien suspect Covid-19. Gua akan cerita tentang pengalaman gua sebagai pasien di salah satu RS Rujukan di Jakarta dan keresahan gua terkait corona. A thread!!” begitu ia memulai ceritanya. Ia bercerita bagaimana susah dan cemasnya menjadi pasien yang masih notabene seorang suspect Covid-19. Beberapa pasien yang bernasib sama di kumpulkan dalam satu ruang isolasi berukuran 2×3 meter untuk beberapa lama, dalam ruangan sudah ada 3 bed dan mereka ada 6 orang, sempit, dan pasti berdekatan terlebih bila ada yang berbaring. Kebayang gak tu, gimana kalau salah satunya memang positif terjangkit, dengan ruangan sesempit itu, yang sehat pun akan bisa tertular kan?

Segera setelah membaca thread ini saya menjadi cemas berlebihan, berpendapat bahwa negara sedang tidak siap menangani pasien suspect covid-19. Tapi tunggu dulu, mereka sudah pasti ditangani oleh dokter yang lebih mengetahui banyak hal dibanding saya yang orang awam.

Langkah termudah (dibandingkan hal modern lainnya) untuk mencegah terjangkit virus ini adalah menahan diri untuk tidak menyentuh wajah sebelum mencuci tangan pakai sabun dan juga seperti di sebutkan sebelumnya yaitu menjaga jarak dari orang lain kira-kira 1-2 meter.

Pemerintah Riau sudah mulai memberi kebijakan bagi beberapa pihak untuk dikarantina di rumah masing-masing, agar mengurangi aktifitas diluar ruangan. Tepat tanggal 16 Maret 2020 diberi kebijakan bagi guru dan murid sekolah tempat saya mengajar dan juga beberapa sekolah didaerah sini untuk dikarantina di rumah masing-masing.

Semoga kita terhindar dari segala macam penyakit berbahaya.

_Addini