Posted in writting/blogging

Ketika Kita Sakit

Nikmat Sehat
Nikmat Sehat

Assalamualaikum, selamat pagi. Semoga kita dalam keadaan sehat semua. Bagi yang sedang sakit, semoga diberi kekuatan untuk melawan sakitnya, dan jangan lupa untuk terus bersabar.

Jika boleh memilih tentu kita ingin selalu sehat. Karena sakit itu memang gak enak. Apapun sakitnya, sakit leher karena salah bantal pun rasanya sangat menyiksa. Mau ngapa ngapain gak enak. Belum lagi kalau flu, rasanya apapun yang terjadi pada dunia gak ada enaknya. Tidur gak nyenyak, makan gak enak, mau gerak nyeri nya dimana mana.

Begitulah kalau sedang sakit, gak akan sama dengan saat kita sehat. Apa yang kita inginkan ketika sakit? Ya tentu saja ingin sehat. Ketika kita sakit, melihat mereka yang sehat terasa sangat bahagia, liat orang jogging, jadi pengen jogging juga, dalam hati bertekad sembuh nanti mau jogging buat jaga kesehatan. Tapi, pas sembuh udah lupa aja seberapa bahagia ketika sakit dulu melihat orang sehat.

Dengan adanya rasa sakit, kita akan sadar betapa nikmatnya menjadi sehat. Namun sayangnya, ketika kita sehat, kita lupa.

Allah swt itu maha tahu apa yang baik buat kita. Jangan bersedih ketika kita ditimpa sakit, Allah gak benci kita, Dia memberi kita cobaan karena Dia tahu kita kuat. Dan Dia selalu punya cara untuk membuat kita bersyukur. Ketika kita sakit yang terjadi pada kita adalah:

  • Allah tarik selera makan kita
  • Allah tarik keceriaan wajah kita
  • Allah tarik dosa kita

Lalu, ketika kita sembuh dari sakit:

  • Allah kembalikan selera makan kita
  • Allah kembalikan keceriaan wajah kita
  • Tapi Allah tidak kembalikan dosa kita

Wassalamu’alaikum..

_addini

Advertisements
Posted in karakter, keguruan, writting/blogging

Pendidikan sebagai Suplemen

Kegiatan di sekolah

Salah satu ciri manusia sebagai makhluk hidup adalah kebutuhan akan makan. Tanpa adanya asupan makanan yang cukup, manusia tidak bisa tumbuh dan berkembang, bahkan parahnya bisa mengakibatkan kematian.

Bobot kebutuhan nutrisi manusia berbeda-beda, selain dari makanan pokok manusia juga perlu tambahan nutrisi untuk kualitas kehidupannya. Tambahan nutrisi ini berupa suplemen yang kita sebut pendidikan. Mengapa disebut suplemen? Suplemen berguna untuk mengangkat derajat kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit, yaitu penyakit ‘tak berpendidikan’.

Memang suplemen berupa pendidikan ini bukan makanan pokok untuk kelangsungan hidup, namun mereka yang mengonsumsi suplemen tentu akan berbeda dengan hanya makan yang pokok saja. Derajat kesehatan akan lebih baik bila ditambah dengan suplemen. Mengapa harus berpendidikan? Toh, tanpa pendidikan, hidup juga akan terus berjalan, kita tetap bisa bernafas, bergerak dan melakukan aktivitas lainnya. Padahal lebih dari itu, pendidikan mampu membawa kebaikkan bagi kualitas diri seseorang. Cara pandang manusia akan kehidupan tentu akan berbeda dibandingkan bila ia tanpa pendidikan.

Didalam pendidikan ada elemen-elemen tertentu yang dibutuhkan, diantaranya berpikir dan pengetahuan. Tanpa pengetahuan manusia akan sulit berpikir, dan tanpa berpikir pengetahuan lebih lanjut tidak mungkin untuk dicapai, oleh karena itu, nampaknya berpikir dan pengetahuan mempunyai hubungan yang sifatnya siklikal (uharsputra).

Tanpa disadari atau mungkin secara sadar, banyak diantara kita yang menganggap pendidikan yang identik dengan memikirkan ini dan itu hanya menambah beban kehidupan saja. Perasaan keberatan ini bisa dilihat dari tingkah laku yang muncul, diantaranya:

  • Tidak mau mematuhi peraturan disekolah atau dari guru
  • Tidak bersemangat untuk pergi kesekolah
  • Kurang santun terhadap guru
  • Tidak bersemangat mengikuti pelajaran
  • Berprasangka terhadap guru
  • Tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru
  • Menyontek tugas siswa lain tanpa mau berusaha terlebih dahulu
  • Tidak mengulangi pelajaran dirumah atau ditempat lain selain disekolah
  • Kurang fokus dan lebih sering menghayal segala sesuatu diluar materi pelajaran sehingga sulit memahami materi

Tingkah laku yang demikian tentu sangat disayangkan sekali. Mengingat bahwa pendidikan itu sendiri tidak merugikan dirinya bahkan akan merubah dirinya supaya lebih baik. Mendapatkan pendidikan dizaman sekarang sudah sangat mudah. Terlebih sekarang pemerintah mewajibkan belajar hingga 9 tahun, sekolah sudah semakin banyak didirikan, biaya sekolah juga sudah banyak dibantu dari uang negara, ditambah beasiswa yang bisa diperoleh bagi siswa berprestasi atau kurang mampu.

Pendidikan tidak hanya tentang ilmu pengetahuan, namun juga tentang moral, etika, prilaku dan sebagainya. Berikut beberapa manfaat pendidikan:

  • Memberikan informasi dan pemahaman mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan yang terus berkembang
  • Menciptakan generasi penerus bangsa yang ahli dalam berbagai dibidang
  • Gelar pendidikan yang akan menunjukkan keahlian seseorang dalam bidangnya dan dalam pengembangan kariernya
  • Membentuk pola pikir terstruktur dan berdasarkan fakta yang ada
  • Mencegah terbentuknya generasi “bodoh”
  • Menambah pengalaman untuk membantu seseorang bekerja lebih baik
  • Mencapai aktualisasi diri
  • Mencegah terjadinya tindak kejahatan
  • Mengajarkan fungsi sosial dalam masyarakat
  • Meningkatkan produktivitas
  • Membentuk karakter yang bermartabat dan bermoral baik
  • Memperbaiki cara berpikir
  • meningkatkan taraf hidup yang memiliki rasa saling menghargai
  • Membentuk kepribadian
  • Mencerdaskan anak bangsa
  • Menjamin terjadinya integrasi sosial yaitu pemahaman mengenai fungsi sosial dalam masyarakat
  • Meningkatkan kreativitas (berbagai sumber)

Tantangan berat dalam meraih pendidikan adalah kurang adanya motivasi diri untuk meraih pendidikan.

Ketika seseorang mampu memahami tujuan dan manfaat pendidikan bagi dirinya, ia akan termotivasi untuk memperoleh pendidikan sebagai suplemen kehidupannya. @addini_

Posted in karakter, nasehat, writting/blogging

Self Kontrol (Pengendalian Diri)

https://addiinimaulida22.files.wordpress.com/2018/10/img_20181027_1121074238363249550549489.jpg?w=840
Kegiatan di sekolah

Kontrol diri adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya sendiri secara sadar agar menghasilkan perilaku yang tidak merugikan orang lain, sehingga sesuai dengan norma sosial dan dapat diterima oleh lingkungannya (wikipedia)

Kita sebagai makhluk sosial yang sehari-hari bertemu dengan orang lain, hendaknya memiliki kemampuan dalam mengendalikan diri. Dalam kita bersosialisasi ada batasan-batasan yang patut kita sadari agar tetap terjalin kehidupan sosial yang damai dan harmonis. Orang lain juga ingin diperlakukan baik, sama seperti kita yang ingin diperlakukan baik.

Seorang yang memiliki kontrol diri ini akan lebih bisa mengatur dirinya sendiri agar dapat terhindar dari perilaku yang bisa merugikan orang lain. Dalam kerempongan yang nyata sekalipun mereka mampu tetap tenang dan fokus. Apapun yang terjadi mereka lebih cenderung untuk patuh dan taat dalam mengikuti suatu aturan yang berlaku didalam bermasyarakat. Kurang suka segala sesuatu yang berbau pelanggaran, bahkan sebisa mungkin mereka hindari. Menghalalkan segala cara dalam situasi apapun bukan lah prinsip mereka.

Perilaku ini bukan lah tanpa sengaja, mereka mengingatkan dirinya sendiri secara terus menerus dan membatasi dirinya akan sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, mereka menerapkan betul peraturan tersebut ke dirinya. Hingga akhirnya menjadi terbiasa dan janggal bila dilanggar.

Sering sekali kita melihat bahkan mungkin kita sendiri melakukan hal-hal yang sebenarnya kita tahu bahwa itu dilarang. Misalnya saja dalam berkendara, ketika kita akan berbelok malas menghidupkan lampu sign, dalam mengantri kita lebih suka mendahulukan diri tanpa memikirkan kepentingan orang lain, dalam berseragam seorang siswa mengeluarkan bajunya, dan tidak menggunakan atribut yang lengkap, menyontek, berbohong, berkata kasar, marah yang tak terkendali, mengatakan sesuatu yang jelas-jelas akan menyinggung perasaan orang lain, atau seorang siswa yang diam-diam pergi ke kantin pada saat jam mengajar berlangsung adalah contoh perilaku yang menandakan self kontrolnya kurang baik.

Kurang adanya self kontrol yang baik tidak hanya dapat merugikan orang lain, namun juga bisa merugikan diri sendiri. Pribadi yang kurang memiliki self kontrol yang baik ini, cenderung akan terburu-buru dalam menyelesaikan suatu permasalahan, bukankah segala sesuatu yang dilakukan terburu-buru biasanya hasilnya kurang maksimal, atau sebaliknya mereka mudah ragu-ragu dalam menyelesaikan masalah, kurang berkonsentrasi, mudah putus asa ketika masalah datang padanya, gampang mengeluh, mudah jenuh, terkadang suka membebani diri dengan sesuatu yang sebenarnya tidak ia sanggupi, ia pun mudah berlebihan dalam mengungkapkan amarahnya atau kesedihannya, dan lain sebagainya.

Amarah yang tak terkendali bisa mencelakakan orang lain bahkan diri sendiri, hal yang terjadi ketika seseorang yang marahnya tak bisa dikendalikan akan gelap akalnya dan mampu melakukan apapun, seperti melukai orang lain, menyakiti diri sendiri, bahkan pembunuhan, ini tentu merugikan dirinya. Ada juga beberapa kasus bunuh diri yang kita ketahui, sebagian besar kasus ini terjadi ketika ia merasa rendah diri dan terperangkap dalam keputusasaan. Bagaimana ini bisa terjadi? Pada intinya ketika seseorang mampu mengendalikan diri, untuk tetap tenang menghadapi apapun, bersyukur dan memahami aturan dan norma yang berlaku, serta menyadari akibat dari suatu perbuatan, tentu perbuatan seburuk itu tak akan terjadi.

Pribadi yang self kontrolnya baik tidak mudah lebay dalam menanggapi apapun disekelilingnya, bahkan bisa lebih enjoy dan lebih mudah bersyukur dengan kehidupan yang mereka jalani. Berikut beberapa contoh prilaku self kontrol

Dalam Keluarga
  • Hidup sederhana tidak suka pamer harta kekayaan dan kelebihannya.
  • Tidak mengganggu ketentraman anggota keluarga lain.
  • Tunduk dan taat terhadap aturan serta perintah orang tua.
Dalam Masyarakat
  • Mencari sahabat sebanyak-banyaknya dan membenci permusuhan.
  • Saling menghormati dan menghargai orang lain.
  • Mengikuti segera aturan yang berlaku dalam masyarakat.
Dalam Lingkungan Sekolah dan Kampus
  • Patuh dan taat pada peraturan disekolah
  • Menghormati dan menghargai teman, guru, karyawan, dll
  • Hidup penuh kesederhanaan, tidak sombong dan tidak gengsi (buku PAI)

Bagaimana Cara Mengendalikan Diri?

  • Hal yang paling ampuh untuk dapat mengendalikan diri adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT, ingatlah hanya dengan mengingat Allah SWT hati akan menjadi tenang, berdzikirlah hingga hati menjadi lapang
  • Lekaslah mencuci muka dengan air, lebih baik lagi mengambil wudhu
  • Berpikirlah positif, cobalah membuka hati dan pikiran dan temukan pandanganmu dari sisi yang lain.
  • Intropeksi diri, tenangkan dirimu, dan renungkan perkataan atau perbuatan yang terjadi, misalnya saat kita dibentak seseorang, coba pahami mungkin memang kita yang salah jika begitu ya sudah akui saja, atau mungkin seseorang itu punya masalah lain yang lebih berat hingga ia melampiaskannya ke kita, ya sudah maklumi saja.
  • Buka pikiran dan renungkan sebab akibat yang akan terjadi jika kamu lampiaskan kekesalan atau keputusasaanmu, misalnya hubungan yang tidak baik, timbulnya rasa dendam yang berkepanjangan, bisa dari kamu atau orang-orang yang kamu sakiti, sulit bergaul sehingga tidak ada teman dan sebagainya
  • Ketika emosi mu memuncak, lebih baik diam, jaga lisanmu. Memang ketika emosi, hal tersulit adalah mengontrol perkataan, ingatlah semakin banyak perkataan yang terucap ketika kita marah semakin banyak pula kita menebar kebencian, bukannya selesai malah akan memperbesar permasalahan.

Kita sebagai pribadi yang berakal dan berbudi pekerti hendaklah memiliki self kontrol yang baik. Alangkah indahnya dunia bila sesama kita mampu menjaga diri dari keburukan, Sangat menyenangkan rasanya bila bersama dengan orang yang punya pengendalian diri ini. Tak jarang mereka memiliki jalan keluar dalam permasalahan, ide mereka unik dan menarik, dan selalu menjadi tempat curhat yang menghangatkan. Tak heranlah jika mereka yang punya pengendalian diri yang baik ini disenangi banyak orang.

Semoga kita bisa menjadi salah satu dari orang-orang yang memiliki pengendalian diri yang baik ya. Mari kita mulai berlatih dari sekarang 😊

@addini

Posted in writting/blogging

Meme yang Tidak Bertempatan

Meme sekarang semakin populer. Segala hal, bisa dari peristiwa maupun tokoh, bahkan kekurangan seseorang sekalipun dijadikan gambar lucu alias meme ini.

Namun sayang, niat melucu ini terkadang tidak pada tempatnya. Peristiwa yang seharusnya adalah kesedihan, dengan dijadikan meme menjadi hal lucu yang tidak sepatutnya untuk jadi bahan tertawaan. Kecacatan orangpun dijadikan bahan lelucon, dengan ditambah segala macam hal. Tokoh masyarakat yang sepatut menjadi sosok pemimpin yang disegani, seketika menjadi objek lelucuan dengan digambarkan sedemikian rupa hingga habis harga dirinya. Tidak perlu saya rincikan disini, kita semua pasti bisa mengingat kembali meme apa saja yang pernah kita lihat.

Sebelum meme saya tahu ada kartun cerdas yang penuh makna sindiran, ya, semua pasti tahu, karikatur namanya. Kartun juga, namun tak selancang sekarang.

Demi untuk “terlihat” lucu, viral, populer, kamu melanggar segala hal. Apakah semestinya begitu? Apakah demi lelucuan harus ada yang tersakiti? Bagaimana jika kamu yang dijadikan bahan meme, dilihat orang banyak, diolok-olok, tidak hanya kamu yang tersakiti orang terdekatmu juga akan merasakan kesedihannya.

Terkadang pun kita sering melihat pada satu sisi saja. Ketika yang kita anggap salah terkadang tak sepenuhnya salah, ketika yang kita anggap benar sekalipun tak sepenuhnya benar. Ketika kita mendukung suatu kubu kita menganggap kubu sebelah tidak ada benarnya. Lalu mulai menciptakan meme yang melebih-lebihkan suatu hal tentang kubu sebelah. Tidak ada baiknya, yang mendukung akan tetap mendukung, yang tidak mendukung akan tetap tidak mendukung. Unfaedah sekali.

Tak selayaknya kita demikian.

Pancasila adalah ideologi bangsa, lalu mengapa kita melanggar habis pasal kedua ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’ beradabkah yang demikian? Marah lah dengan cerdas, cerdas yang beradab. Gambar hinaan seperti itu bukanlah dari orang yang beradab. Melucu lah dengan tidak melanggar adab.

Memang tidak semua meme itu tidak baik, ada beberapa meme yang memang niat nya untuk candaan semata. Saya pun mendukung karya meme yang seperti itu.

Stop mendukung meme hinaan yang beredar di medsos. Penggunaan medsos itu sedunia ya. Jika kita sendiri mengina pemimpin kita, lalu bagaimana orang luar negeri bisa memandang baik negeri kita? Katanya bangsa kita adalah bangsa yang sopan dan ramah, lalu mengapa kita sendiri yang membuat nama kita rusak? Dengan mengajak orang untuk menertawakan kejelekkan sendiri. Ah miris. @addini

Posted in karakter, nasehat, Uncategorized, writting/blogging

Hargai Mereka Agar Kamupun Dihargai

Setiap dari kita pasti ingin dihargai. Baik itu oleh yang lebih muda maupun yang lebih tua. Orang jalanan sekalipun ingin dihargai juga. Menghargai seseorang itu tidak lah sulit, namun banyak diantara kita yang agak keberatan untuk bisa lebih menghargai orang lain.

Keadaan yang dipersulit ini agak membingungkan. Ingin dihargai namun tidak bisa menghargai. Disaat kita berharap orang memberi, sementara orang itu tidak ada inisiatif untuk memberi, jangan terburu-buru untuk marah apalagi sampai ghibah. Tapi coba diingat lagi, apa kamu sudah banyak memberi dia? Bukan maksudnya untuk mengingat kebaikan diri sendiri ya, tapi untuk intropeksi diri.

Alangkah baiknya jika sebelum berpikiran buruk tentang orang lain, cerminkan dulu ke diri sendiri, apa cukup baik?

Lucu kan berharap orang memberi sementara kita sendiri tidak ingin membagi. Dont be childist, please!

Saya pernah menyaksikan dua anak kecil yang sedang bermain, kemudian datang seorang anak kecil yang lain membawa sebungkus kerupuk, bukan karena ingin bergabung, tapi mendekat hanya untuk menyombongkan makanannya. Dua anak kecil yang tidak diberi ini pun menangis, merengek kepada orang tuanya untuk membeli kerupuk juga. Tak lama dua anak kecil tadi membawa snack yang lebih banyak, mereka pun makan bersama, saling berganti snack kebetulan snack mereka berbeda rasa, bagaimana dengan anak yang tidak ingin membagi tadi? Mendekat namun sama sekali tidak digubris temannya. Ia pun pulang dan merengek minta dibelikan lagi. Anak kecilpun tau kepada siapa dia mesti menghargai.

Kita bukan anak kecil lagi, sudah seharusnya kita lebih bisa bersikap dengan baik. Walau masalah yang kita hadapi tidaklah sedangkal anak kecil itu tapi dari situ lah kita mulai. Bagaimana pun kita sudah tau mana yang baik dan mana yang tidak baik. Gak mau dong ya disamakan dengan anak kecil?

Ketika ego menguasai diri, rasa sombong dan angkuh akan membatasi diri dari sikap menghargai orang lain.

Banyak orang yang merasa dirinya akan jatuh harga dirinya ketika menghargai orang lain. Merasa bahwa ketika menyalami penjaga gudang, tersenyum kepada pemulung, menyapa penjaja keliling akan menjadikan nya sederajat dengan orang itu. Derajat yang ia kotak-kotakkan sendiri. Merasa bahwa ia diatas dari beberapa orang kebanyakan. Betapa sulit dipahami prinsip yang demikian, kesombongan inikah yang dipelajarinya disekolah? Atau dipelajarinya dirumah? Bukan! Kesombongan itu tidak dipelajari dimanapun ia berasal dari dirinya sendiri.

Orang yang berpikir akan lebih tau kemana ia bawa hati dan pikirannya.

Obatnya orang sulit menghargai dan punya rasa sombong ini cuma satu yaitu sadar diri 🙂

Apapun yang kamu tanam itulah yang akan kamu panen.

Tapi ingat ketika kita menghargai seseorang tidak serta merta menjadi kan orang itu juga menghargai kita. Tapi jangan menjadikan mu berubah. Itu lah tanda bahwa kamu menjadi orang yang lebih istimewa dibanding dirinya.

@addini

Posted in kiasan, nasehat, writting/blogging

Daun Tak Pernah Membenci Angin Katanya

Saya pernah membaca kiasan terkenal ini. Mungkin pembaca juga. Daun tak pernah membenci angin. Katanya begitu.

Kita tahu bahwa daun pada ranting akan jatuh ditiup angin. Lalu apakah benar daun tidak membenci? Kita tidak pernah tahu pasti, yang kita tahu daun akan mudah jatuh ditiup angin.

Bisa jadi dia jatuh dengan kebencian, bagaimana mungkin dia tidak membenci angin yang telah melepaskannya dari sesuatu yang bisa memberinya kehidupan.

Atau mungkin dia memang tidak membenci angin sama sekali, tapi alasan apa yang membuat sehelai daun tidak membenci angin? Merasa terbantu karena ingin bebas? Yang benar saja, sampai dimana sih kebebasan sehelai daun? Ia tertiup angin sebentar, jatuh ketanah, bisa jadi dibakar, bisa jadi terinjak, bahkan membusuk diperairan, lalu mengapa kita bisa berpikir bahwa daun tidak membenci angin?

Sudahlah, benci ataupun tidak, ia akan jatuh juga. Ia akan membusuk juga. Tidak, dia tidak memberontak sama sekali. Bahkan dari awal dia hanya diam.

Lalu sampai kapan kita tahu apakah daun benar-benar tidak membenci angin?

Kita tidak tahu, benar-benar tidak tahu, sama sekali.

Biarlah sehelai daun kita ekpsektasikan demikian.

Dan biarlah kebisuan daun memberikan kita pelajaran bahwa ketenangan bisa memberikan ekpsektasi sebaik itu. @addini_

Posted in karakter, keguruan, writting/blogging

Menghakimi Tanpa Memahami

Kita benar-benar buta ya. Sebenar-benar buta. Kita tidak tahu bagaimana nanti kita kedepannya. Ketika kita melakukan kebaikan sekalipun kita tidak menjamin apakah memang benar-benar kebaikan juga yang datang kepada kita. Sulit dipercaya ya. Bukan maksudnya melarang kebaikan, satu yang pasti kebaikan kita akan dibalas oleh yang maha baik, yang saya tekankan disini adalah dari orang-orang disekitar kita.

Beberapa dari pembaca mungkin ada yang mengalami seperti ini. Selalu dinilai buruk oleh pihak tertentu, adaaa aja yang bisa mereka sentil. Gagal paham juga ya sama orang yang demikian, apa faedahnyaa coba? Padahal cepat atau lambat orang juga akan mengetahui kejadian sebenarnya.

Disini saya ingin menceritakan contoh lain yang mungkin bisa jadi cerminan buat kita.

Ada beberapa murid kelas 8 di suatu sekolah, yang mendadak jadi pembangkang dan lebih bandel dibanding kelas 7 dulu. Mulai dari yang sering gak masuk, merokok, bahkan menjadi geng anak berandalan. Guru lain ada yang menyeletuk “si Fulan ini waktu saya jadi walikelas nya gak begini kok, baik dia sama saya, ditegur dong muridnya bu wali kelas masak murid nya bisa bandel begitu, jangan dibiarin gitu aja”. Beberapa orang pasti menilai walikelas Fulan kelas 7 is the best, pandai mendidik muridnya menjadi baik dan sebaliknya walikelas Fulan saat kelas 8 tidak becus mendidik, tidak pandai menasehati, dan tidak peduli dengan prilaku anak didiknya.

Kadang orang hanya pandai menilai apa yang dia lihat tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Tanpa sepengetahuan walikelas Fulan kelas 7, si walikelas Fulan kelas 8 sudah sering menasehati Fulan, bahkan Fulan sudah berbagi cerita pahit hidupnya yang seorang anak dari keluarga broken home, Ia merasa semakin kacau ketika Ibu nya menikah lagi dengan seorang lelaki yang kurang bertanggung jawab dengan keluarga. Ia merasa tidak bersemangat lagi untuk sekolah. Ibu Fulan juga sering ditelfon dan dibujuk oleh walikelasnya untuk menyemangati Fulan tetap bersekolah. Singkat cerita walikelas ini sudah berusaha maksimal. Namun, Fulan lebih memilih bebas dari sekolah, keputusannya sudah mantap untuk bekerja.

Patut diketahui bahwa tingkatan kelas itu memiliki usia perkembangan yang berbeda. Jangan dulu menyamakan perkembangan anak di kelas 7 dengan perkembangan anak di kelas 8 ataupun di kelas 9. Beda tingkatan beda pula kesulitannya. Apa bedanya sih toh masih SMP, beda nanti kalau udah d SMA kan? Perubahan dari SMP ke SMA gak serta merta, sim salabim berubah, ya gak gitu juga. Ada tingkatan yang mereka lalui. Mulai dari kelas 7 yang masih banyak nanya hal-hal kecil, seperti latihannya di buku latihan atau di buku catatan, ketika baru mau nulis latihan di papan tulis udah nanya soal latihannya berapa banyak. Di Kelas 8 nanya juga, tapi udah mulai bisa nanya yang gak sekecil itu lagi, sampai nanti di kelas 9 mereka sudah pandai menanyakan sesuatu dengan membandingkan situasi yang lain.

Mulailah untuk lebih mengerti akan setiap situasi disekitar kita, berhentilah untuk menghakimi tanpa memahami.

Bagi yang selalu dihakimi tanpa sebab, bersabarlah, jangan buang-buang tenaga dengan marah yang tak terkendali, Allah swt maha melihat sesuatu yang kita usahakan, maha mengetahui apa yang kita niatkan.

Pahami lah bahwa tidak semua orang bersikap dewasa, maka jadi lah salah satu yang bersikap dewasa.

Semoga bacaan ini bermanfaat untuk pembaca sekalian :). Mohon jika mau ngutip tulisan ini beri sumbernya ya. Tks _@addini

Posted in Uncategorized

Secarik Kertas itu adalah Surat

imageSurat Izinku
Surat Izinku

Ketika itu hari Sabtu, dan saya lupa tanggalnya berapa. Seperti biasa, awal masuk kelas, saya menanyakan kehadiran murid. Saat itu mereka dengan kompaknya memberitahukan surat izin salah satu temannya yang tidak hadir, hem… agak mengherankan juga. Ooh..ternyata mereka tidak sabar ingin saya membaca surat salah satu temannya itu.

Pandangan pertama saya tertuju pada format surat, ini mana tempat dan tanggal surat dibuat? Yang bertanda tangan mana namanya? Salam pembuka juga disingkatin bangeett… ini lagi ada sobekkan?! Aduh..

Oh..anggaplah murid ini belum paham betul bagaimana membuat surat dengan format yang benar.

Dengan penuh coretan disana sini saya mencoba membaca surat tersebut. Lucu dengan kepolosan nya ? Tentu siapapun mungkin akan tertawa dengan surat ini. Tapi bagaimana dengan isi surat? Apa yang ingin Dia utarakan disuratnya? Yah.. betapa Dia mengalami masa-masa yang sulit.

Jangan hanya menilai dengan apa yang terlihat. @addini

Posted in Uncategorized

Hello guru!

Suatu ketika, saya duduk bersama murid. Saya ingat ketika itu kami baru saja selesai gotong royong kelas. Hanya dengan kegiatan yg sebentar itu banyak informasi yang saya bisa ambil dari mereka. Mulai dari nama orang tua si fulan, si fulan cinlok (cinta lokasi) sama si fulan, si fulan berantem sama si fulan, bagaimana usilnya seorang fulan yang terlihat begitu teladan, bahkan dapat mengetahui sisi baik dari seorang fulan yang begitu degil di kelas, sampai kepada bagaimana guru-guru dalam pandangan mereka.

Setiap anak memang memiliki kriteria guru yang ia suka. Ada yang lebih menyukai guru yang lembut dan murah senyum, ada yang menyukai guru yang kerjanya melawak saja, ada juga yang menyukai guru yang tegas dan agak sedikit killer, dan bahkan ada juga yang lebih menyukai guru yang jarang datang.

Yaps! Setiap murid memang spesial dan setiap guru juga tak kalah spesial! Setiap guru pasti ingin disukai oleh murid-muridnya. Hingga bermacam hal diperbuat guru agar menarik hati muridnya. Oleh karena itu setiap guru memiliki teknik mengajar yang berbeda satu sama lain, sama seperti tiap murid yang memiliki sifat yang berbeda. Bagaimanapun perbedaannya setiap individu dituntut untuk bisa menyesuaikan. Bukankah manusia makhluk sosial?

Bagi guru-guru diluar sana yang kehabisan akal untuk menarik hati muridnya, jangan berputus asa. Tetap sabar dan teruslah belajar, lakukan lah dengan penuh kebahagiaan. Yakinlah bahwa diantara makhluk muda itu ada yang akan merasakan aura positive yang kamu pancarkan.

Menjadi guru itu menyenangkan. Bagaimanapun sibuknya, bagaimanapun rempongnya, selalu ada hal menyenangkan yang bisa dibawa pulang dari mereka. @addini_

Posted in Anak, keguruan

Murid Zaman Now

Murid zaman now memang agak sedikit berbeda dengan murid zaman old ya. Mereka lebih ekspresif dan kadang juga agresif. Hampir semua ingin menunjukkan dirinya. Terlihat dari tingkah polah mereka ketika di kelas, banyak dari mereka yang rebutan ingin maju ke depan, walau hasil kerjanya masih membingungkan, walau hasil kerjanya dari hasil menyontek, tetap semangat ingin maju ke depan, terlebih jika pada materi yang sedikit mudah. Bahkan pandai pula merajuk jika tidak ditunjuk. Tidak hanya dalam suasana belajar, tetapi juga pada kertas, ya kertas ulangan maupun latihan.

Seperti pada kertas ulangan murid berikut ini, jawabannya bikin guru tercengang antara lucu tapi juga gimanaa gitu
1.

image

Murid zaman nowMurid zaman nowMurid zaman now

Pertanyaan dari soal no.3 adalah “Jelaskan pengertian relasi dari himpunan A ke himpunan B!”
Si murid ini malah menjawab “hanya Allah yg tau dan orang yg pintar”
Hmm bagaimana? Apa memang pertanyaannya separah itu? 😂😂

2.

image

Murid zaman nowMurid zaman now

Pertanyaan untuk soal ini “Tentukan relasi yang mungkin dari himpunan A ke himpunan B!”
Beberapa murid menjawab:
“Bulan jadian”
“Bulan menikah”
“Bulan bertengkar”
“Cabut di bulan”
Dan masih banyak lagi nama relasi yang mereka sebutkan. Sayangnya cuma satu ini yang kepikiran untuk di jepret. Yaa si guru tentu merasa lucu sebab ekpektasinya hanya pada nama relasi “menyukai bulan” atau “bulan lahir”. Lah ini sampai yang segitunya.. duuhh murid zaman now.

Selama mengajar memang hal unik ini sering terjadi sih, gak cuma kertas ulangan tapi juga buku latihan. Ada-ada saja yang bisa mereka tulis.

Waktu itu ada juga tuh murid, menulis doa supaya dapat nilai seratus di buku latihannya. 😂
Ada juga yang curhat minta maaf sebab mereka belum paham.
Kalau mengenai coret-coret di lembaran terakhir buku udah gak heran lagi ya, rata-rata mereka pada nyoret di lembaran itu. Entah itu coretan untuk menentukan hasil operasi bilangan atau juga coretan pada saat suntuk ketika tidak mendapat jawaban. Semua coret-coret selama latihan yaaa di lembaran terakhir itu, selembar latihan, selembar pula coretannya. 📝 @addini